DENPASAR — Parade 450 polwan dari 43 negara membuka rangkaian International Association of Women Police (IAWP) Training Conference 2026 di Lapangan Puputan Renon, Denpasar, Bali. Warga memadati kawasan Jl. Raya Puputan Renon hingga Monumen Bajra Sandhi untuk menyaksikan barisan peserta dengan seragam kepolisian masing-masing negara, lengkap dengan atraksi dan tradisi khas yang dibawa tiap delegasi.
Parade ini menjadi pembuka dari konferensi lima hari yang dipusatkan di Nusa Dua. Pelaksanaan IAWP 2026 di Bali merupakan penyelenggaraan kedua konferensi tersebut di Indonesia.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut sejumlah isu kepolisian menjadi pembahasan dalam rangkaian konferensi. Isu tersebut mencakup kepemimpinan perempuan, investigasi kompleks, identifikasi korban bencana, perdagangan orang, kontra-terorisme, kekerasan berbasis teknologi, transformasi teknologi kepolisian, hingga kejahatan transnasional terorganisasi.
"IAWP ini tidak hanya menjadi parade, tetapi juga momentum bagi Polwan dari berbagai negara untuk memperkuat komunikasi, berbagi pengalaman, dan membangun kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan kepolisian yang semakin kompleks," ujar Trunoyudo dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Kehadiran ratusan polwan dari berbagai negara di Bali dinilai memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata. Trunoyudo menilai gelaran ini sekaligus menunjukkan kesiapan Bali sebagai destinasi penyelenggaraan kegiatan berskala internasional.
"Kita berharap pertemuan ini dapat menghasilkan pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik yang bisa diterapkan di masing-masing negara. Kehadiran ratusan Polwan dari berbagai negara di Bali juga menunjukkan bahwa kerja sama kepolisian tidak mengenal batas negara, terutama dalam menghadapi kejahatan yang terus berkembang," katanya.
Kelancaran parade dan rangkaian IAWP 2026 tidak terlepas dari pengamanan personel Polda Bali dan jajaran, dukungan masyarakat, serta koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait. Konferensi yang berlangsung lima hari ini diharapkan menghasilkan pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik yang dapat diterapkan di masing-masing negara peserta.