Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, Bali, menjadikan Agung Rai Museum of Art (ARMA) Fest sebagai ajang memetakan potensi dan mencari bibit seniman muda dari tujuh kecamatan. Pemetaan menyasar bidang seni rupa, kriya, kuliner, sastra, karawitan, hingga tari, dengan lokakarya kendang diikuti sekitar 80 peserta dan lomba melukis spontan sekitar 300 peserta.
GIANYAR — Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Wayan Adi Parbawa menyatakan ARMA Fest tidak hanya dipandang sebagai kegiatan festival. Menurut dia, ajang itu menjadi ruang untuk menggali, merekonstruksi, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal Gianyar.
"Makna dari ARMA Fest di sini adalah yang pertama adalah merekonstruksi, menggali, kemudian menghidupkan kembali nilai-nilai terutama kekhususan tentang kearifan lokal yang ada di Kabupaten Gianyar," kata Adi Parbawa di Gianyar.
ARMA Fest menjadi salah satu ruang mengenalkan seni dan budaya kepada generasi muda lewat berbagai kegiatan. Di antaranya lokakarya kendang, melukis klasik gaya Keliki, melukis spontan, serta perlombaan baleganjur.
Lokakarya kendang diikuti sekitar 80 peserta dan akan dilanjutkan dengan kegiatan pembinaan pada November mendatang. Kegiatan melukis spontan melibatkan sekitar 300 peserta dari tingkat SMP, SMA hingga umum.
"Program daripada Dinas Kebudayaan di sini adalah kita akan mencari bibit generasi yang ke depannya kita akan berikan ruang untuk memang berkarya," ujarnya.
Pencarian potensi tidak dilakukan di satu wilayah saja, tetapi mencakup seluruh kecamatan di Kabupaten Gianyar. Yakni Payangan, Tegallalang, Tampaksiring, Ubud, Blahbatuh, Sukawati, dan Gianyar.
Potensi yang dipetakan meliputi berbagai bidang seni dan budaya, mulai dari seni rupa, kriya, kuliner, sastra, karawitan hingga tari. Potensi tersebut perlu didokumentasikan dan didata sehingga dapat menjadi bagian dari kajian yang nantinya dikembalikan kepada masyarakat di wilayah asalnya.
Adi Parbawa menilai upaya itu penting untuk menjaga kesinambungan karya para seniman terdahulu. Sekaligus memastikan generasi muda mengenal sejarah dan proses lahirnya berbagai karya seni dan budaya di Gianyar.
Salah satu upaya yang sedang dilakukan dalam rangkaian ARMA Fest adalah menggali kembali sejarah kelahiran tari Legong yang berkembang di Puri Peliatan Agung, Gianyar. Adi Parbawa berharap proses tersebut dapat berlanjut hingga menghasilkan rekonstruksi sejarah yang lebih lengkap dan dapat dihadirkan pada 2027.
Dinas Kebudayaan akan terus bersinergi dengan pengelola kegiatan budaya dan komunitas. Tujuannya memastikan festival tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi memberikan dampak terhadap pelestarian budaya dan regenerasi seniman.
"Momentum kegiatan-kegiatan festival yang ada di Kabupaten Gianyar seyogianya dan berkewajiban kami harus mendukung dari Pemerintah Kabupaten Gianyar, khususnya Dinas Kebudayaan, untuk memberikan suatu warna, kemudian juga pengawalan supaya betul-betul makna daripada hajatan kesenian ini betul-betul berdampak dengan baik," katanya.
Melalui festival seperti ARMA Fest, pemerintah dapat turun langsung melihat potensi masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas. Adi Parbawa berharap upaya tersebut memperkuat pelestarian seni dan budaya Gianyar, sekaligus memastikan karya para seniman dari generasi sebelumnya tetap dikenal dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.