BALI — Anggapan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selalu menguntungkan eksportir mendapat bantahan keras dari pengusaha mebel dan kerajinan di Bali. Ketua Dewan Pimpinan Daerah HIMKI Bali secara tegas menyatakan bahwa kondisi saat ini justru membuat para anggotanya kesulitan.
Kenaikan kurs dolar membuat harga bahan baku impor, seperti kayu olahan, finishing, dan aksesori pendukung, membengkak signifikan. Para pengusaha kini terjepit di antara biaya produksi yang naik dan harga jual produk yang belum bisa langsung disesuaikan dengan pasar internasional.
Logika umum menyebut eksportir akan mendapat lebih banyak rupiah dari setiap transaksi dolar. Namun, Ketua DPD HIMKI Bali menjelaskan bahwa keuntungan itu tergerus habis oleh kenaikan biaya produksi. Banyak pengusaha mebel dan kerajinan di Bali yang bergantung pada material impor, terutama untuk produk dengan kualitas ekspor tinggi.
Ketergantungan pada bahan baku impor ini menjadi bumerang. Alih-alih menikmati selisih kurs, para pengusaha harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bahan baku yang sama. Margin keuntungan mereka justru menipis.
Ketua DPD HIMKI Bali merinci bahwa komponen impor dalam produk mebel dan kerajinan bisa mencapai 30 hingga 40 persen. Jenis bahan yang diimpor antara lain kayu tertentu yang tidak diproduksi di dalam negeri, lem, cat, serta perlengkapan logam. Saat rupiah melemah, harga barang-barang ini otomatis meroket.
“Kenaikan kurs dolar dianggap untungkan eksportir, tapi di lapangan pengusaha mebel dan kerajinan Bali justru menjerit,” ujar Ketua DPD HIMKI Bali dalam pernyataannya. Ia menegaskan bahwa situasi ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
HIMKI Bali berharap ada kebijakan insentif atau relaksasi bagi pengusaha yang terkena dampak fluktuasi kurs. Salah satu usulan yang mengemuka adalah kemudahan akses bahan baku lokal sebagai substitusi impor. Para pengusaha juga mendorong pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar agar perencanaan bisnis jangka panjang tidak terganggu.
Jika tidak ada langkah konkret, dikhawatirkan banyak pengusaha kecil dan menengah di sektor ini akan gulung tikar. Industri mebel dan kerajinan merupakan salah satu penopang ekonomi kreatif Bali yang menyerap ribuan tenaga kerja.
Dampak pelemahan rupiah sudah dirasakan para pengusaha sejak beberapa pekan terakhir. Mereka mengaku kesulitan melakukan negosiasi kontrak baru dengan pembeli di luar negeri karena harga jual yang harus dinaikkan. Sebagian pembeli memilih menunda pesanan sembari menunggu situasi membaik.
Kondisi ini diperparah dengan persaingan ketat dari negara eksportir mebel lain seperti Vietnam dan China yang nilai tukar mata uangnya lebih stabil. Para pengusaha Bali berharap kebijakan pemerintah bisa segera hadir untuk menyelamatkan industri yang selama ini menjadi kebanggaan daerah.