JAKARTA — Analisis data kausalitas yang dilakukan Chatib Basri antara pergerakan rupiah dan risiko fiskal—diukur melalui Credit Default Swap (CDS) atau biaya asuransi gagal bayar obligasi negara—menunjukkan hasil signifikan. Sebesar 23 persen dari variasi pelemahan rupiah dapat dijelaskan langsung oleh pergerakan CDS. Sebaliknya, fluktuasi rupiah hanya mampu menerangkan 2,3 persen dari pergerakan CDS.
“Soal kita itu adalah soal confidence di fiskal,” kata Chatib dalam agenda tersebut.
Data menunjukkan nilai CDS Indonesia sudah mulai memburuk sejak Januari 2026, jauh sebelum pecahnya konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Pemicunya adalah keputusan Moody’s mengubah outlook peringkat utang Indonesia serta kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran yang mendekati tiga persen.
Hal ini membuktikan bahwa faktor utama pelemahan rupiah tak hanya dampak dari perang global, melainkan bersumber dari perhatian investor terhadap kredibilitas fiskal domestik. Akibatnya, sejumlah negara lain yang juga terdampak perang tidak mengalami depresiasi mata uang sedalam Indonesia.
Mengenai dampak pelemahan kurs ke inflasi, estimasi Bank Indonesia (BI) menunjukkan setiap depresiasi Rp1 terhadap dolar AS hanya menyumbang tambahan inflasi sekitar 0,13 persen. Dengan depresiasi rupiah yang berada di kisaran 8 persen, efek rembetan ke inflasi umum masih di bawah 1 persen.
Kendati demikian, dampak kenaikan harga disebut akan sangat terasa pada produk-produk berbasis impor seperti plastik dan besi. Sektor swasta kini dihadapkan pilihan sulit: meneruskan kenaikan biaya ke konsumen yang berisiko memukul daya beli, atau menyerapnya dengan menurunkan margin keuntungan yang akan membuat pertumbuhan korporasi melambat pada paruh kedua tahun ini.
“Sekarang pertanyaannya adalah sama nggak (kondisi ekonomi) 1998 dengan 2026? My answer is no. Kenapa? Yang membedakan paling besar 98 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate,” ungkap Chatib.
Saat ini, kelompok menengah ke atas dan korporasi disebut telah mengantisipasi depresiasi rupiah dengan melakukan lindung nilai (hedging) atau memindahkan aset ke dolar AS. Persoalan akhirnya bergeser ke kelompok menengah ke bawah karena efek kenaikan bahan pangan impor membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang, sehingga memerlukan intervensi perlindungan sosial.
Secara keseluruhan, depresiasi rupiah dianggap tidak akan membawa Indonesia ke jurang resesi. Chatib bahkan berpendapat pertumbuhan ekonomi di level 4,5-5 persen masih tergolong sangat baik dalam standar global saat ini.