BULELENG — Desa pesisir di Bali Utara ini membuktikan bahwa pembangunan ekonomi tidak harus mengorbankan alam dan budaya. Melalui program DSA yang bergulir sejak 2024, Desa Les mengelola potensi alamnya—mulai dari perbukitan hijau, lahan pertanian, hingga pesisir penghasil garam tradisional—menjadi destinasi wisata terpadu.
Kawasan ini kini menawarkan wisata pantai, air terjun, dan aktivitas berbasis komunitas yang melibatkan langsung warga setempat. Program pemberdayaan dijalankan lewat empat pilar kontribusi sosial: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Dari segi ekonomi, dampaknya terukur. Selain pendapatan warga naik seperempatnya, program ini juga membuka puluhan lapangan kerja baru. Penyerapan pasar terhadap produk lokal melonjak hingga 100 persen, artinya seluruh hasil produksi warga terserap habis.
Lebih dari 800 warga telah merasakan manfaat dari berbagai kegiatan pemberdayaan yang digelar di desa tersebut.
Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto menegaskan bahwa program DSA dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan, kelestarian lingkungan, dan identitas budaya masyarakat.
"Pembangunan desa tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kemajuan, kelestarian lingkungan, serta identitas budaya yang dimiliki masyarakat," ujar Boy dalam keterangan resmi.
Desa Les sendiri memiliki potensi alam yang beragam. Wilayahnya membentang dari perbukitan hijau, lahan pertanian subur, hingga pesisir yang menjadi sumber penghidupan utama melalui sektor perikanan dan produksi garam tradisional. Potensi-potensi inilah yang kemudian dikemas menjadi paket wisata terpadu.
Alih-alih membangun resort atau hotel besar, Desa Les memilih jalan pariwisata berbasis masyarakat. Wisatawan diajak berinteraksi langsung dengan aktivitas keseharian warga, mulai dari memancing, belajar memproduksi garam, hingga trekking ke air terjun di perbukitan.
Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan karena keuntungan ekonomi langsung dirasakan oleh warga, bukan oleh investor luar. Identitas budaya lokal pun tetap terjaga karena tidak tergerus oleh pariwisata massal.