MANGUPURA — Dua duta resmi Kabupaten Badung itu mendapat pembinaan intensif dari Sanggar Krisnarupa, Abianbase, sejak awal tahun. Ketua Sanggar Krisnarupa, Ngurah Alit Kapakisan, mengungkapkan proses persiapan sudah dimulai pada Februari 2026, dimulai dari penentuan tema hingga teknik pewarnaan.
“Persiapannya mulai penentuan tema yang menyesuaikan dengan tema PKB sekarang yakni Atma Kerthi. Selanjutnya menggelar latihan sket serta latihan mewarnai. Proses itu sudah kami lalui dan sudah kami maksimalkan untuk tampil di ajang PKB kali ini. Astungkara kedepannya bisa mendapatkan juara,” ungkapnya.
Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Badung, Made Adi Adnyana, menegaskan peran pemerintah daerah hanya sebatas penyedia anggaran. Proses kreatif dan teknis pelatihan sepenuhnya dipercayakan kepada sanggar yang menangani peserta. “Kami hanya mensupport dari sisi anggaran,” tegasnya.
Adi Adnyana menjelaskan, secara resmi Kabupaten Badung hanya mengirim dua wakil sesuai undangan yang diterima. Tujuh peserta lainnya yang lolos lewat jalur umum tidak masuk dalam pembinaan yang difasilitasi Dinas Kebudayaan.
Dewan Juri Made Yasana bersama Ni Made Rinu dan Made Bendi Yudha memaparkan sejumlah aturan teknis. Lomba terbuka bagi peserta pria dan wanita dengan kuota maksimal 100 orang. Untuk kategori duta kabupaten atau kota, setiap daerah hanya boleh mengirim maksimal dua peserta.
Syarat usia peserta berkisar 13 hingga 18 tahun yang dibuktikan melalui identitas resmi. Seluruh peserta diwajibkan mengenakan busana adat Bali madya selama perlombaan.
Made Yasana menjelaskan, karya yang dilombakan harus mengacu pada seni lukis wayang klasik Bali dengan gaya Kamasan serta relevan dengan tema PKB 2026. Karya dibuat di atas kertas ukuran A3 yang disediakan panitia, sedangkan perlengkapan lain dipersiapkan sendiri oleh peserta.
Peserta tidak diperbolehkan membawa contoh gambar. Teknik pewarnaan menggunakan sigar warna atau gradasi, dan hasil akhir tidak boleh dilapisi cat semprot. Waktu pengerjaan diberikan selama tiga jam atau 180 menit, sementara seluruh karya yang dihasilkan menjadi milik panitia.
Aspek penilaian mencakup gagasan dan kreativitas, teknik pengerjaan, serta kesesuaian tema dan keutuhan karya dengan bobot nilai berbeda pada masing-masing unsur.
Made Yasana yang berasal dari ISI Bali turut mengingatkan bahwa seni lukis wayang klasik Bali tidak sepenuhnya identik dengan Kamasan. Menurutnya, pakem dasar harus tetap dipertahankan dan tidak boleh diubah.
“Jangan sampai gelung Bima diganti dengan gelung Kresna. Itu jelas tak bisa. Yang boleh ditukar-tukar sedikit itu adalah sesaluk atau kostum. Silakan hias sepintar-pintarnya yang penting lengut atau pangus,” ujarnya. (MBP/a)