BADUNG — Angka belanja wisatawan mancanegara selama berkunjung ke Indonesia pada tiga bulan pertama tahun ini tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di 2025. Kementerian Pariwisata merilis data devisa pariwisata mencapai Rp68,28 triliun, tumbuh 6,3 persen secara tahunan.
Kenaikan rata-rata pengeluaran wisman menjadi faktor utama di balik pertumbuhan devisa tersebut. Para pelancong tidak hanya mengeluarkan uang untuk akomodasi dan transportasi, tetapi juga mulai banyak berbelanja produk lokal.
Suasana itu terlihat di kawasan Kuta, Badung, Jumat (19/6/2026). Sejumlah wisatawan asing terlihat meluangkan waktu untuk melihat-lihat dan membeli produk kerajinan UMKM yang dipajang di pinggir pantai maupun di pusat oleh-oleh.
Kebiasaan baru wisman yang menyisihkan anggaran lebih besar untuk belanja produk UMKM dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah. Selama ini, kontribusi sektor pariwisata terhadap devisa negara sangat bergantung pada jumlah kunjungan. Kini, kualitas belanja per wisatawan mulai menunjukkan peningkatan.
Kementerian Pariwisata mencatat tren ini sudah berlangsung sejak akhir 2025 dan terus menguat pada awal 2026. Produk fesyen, perak, dan kerajinan kayu khas Bali menjadi barang yang paling banyak diburu wisatawan asing.
Pemerintah pusat dan daerah di Bali terus mendorong agar wisman tidak hanya datang, tetapi juga membelanjakan uang lebih banyak selama berlibur. Langkah ini ditempuh dengan memperbanyak titik interaksi antara wisatawan dan pelaku UMKM di destinasi wisata utama.
Kawasan Kuta, Seminyak, dan Ubud menjadi lokasi prioritas karena tingginya konsentrasi wisatawan mancanegara. Dengan strategi ini, pemerintah optimistis devisa pariwisata pada triwulan berikutnya bisa melampaui capaian saat ini.