Dua Laga Piala Dunia Digelar di Level Panas Ekstrem, Analisis Data Ungkap Suhu Capai 28°C

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Jumat, 19 Juni 2026 | 22:02:31 WIB
Dua laga Piala Dunia 2026 berlangsung di suhu bola basah mencapai 28°C tanpa pendingin udara.

BALI — Dua pertandingan babak pertama Piala Dunia 2026 dimainkan di bawah tingkat panas ekstrem yang sebelumnya oleh serikat pemain sepak bola global, Fifpro, disebut sebagai kondisi yang seharusnya memicu penundaan atau penundaan pertandingan. Temuan ini berasal dari analisis data cuaca yang dilakukan oleh The Guardian terhadap 24 laga pertama turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Dua Laga Tanpa AC di Ambang Bahaya

Laga Arab Saudi melawan Uruguay di Miami tercatat sebagai pertandingan dengan kondisi panas paling parah dalam analisis tersebut. Disusul oleh pertandingan Swedia melawan Tunisia di Monterrey yang menempati peringkat kedua terparah.

Kedua laga ini, meskipun digelar pada malam hari, tetap berlangsung di bawah suhu bola basah (wet-bulb temperature) mencapai 28°C atau lebih. Suhu bola basah adalah ukuran stres panas yang menggabungkan suhu udara, kelembapan, dan tutupan awan untuk menentukan seberapa baik tubuh manusia dapat mendinginkan diri melalui keringat.

Empat Laga Lain di Kota Panas, Terbantu AC Stadion

Empat pertandingan lainnya juga digelar di kota-kota dengan suhu melampaui ambang batas tersebut. Namun, kondisi di dalam stadion berhasil diredam oleh keberadaan pendingin udara (AC).

Enam dari 24 pertandingan pertama berlangsung di lokasi dengan suhu bola basah mencapai 28°C atau lebih. Selain dua laga tanpa AC, daftar itu mencakup Jerman vs Curacao di Houston, Portugal vs DR Kongo di Houston, Belanda vs Jepang di Dallas, dan Inggris vs Kroasia yang juga digelar di Dallas. Stadion di Houston juga dilengkapi dengan AC.

Pedoman FIFA vs Seruan Serikat Pemain

Fifpro sebelumnya telah menyatakan bahwa pertandingan yang dimainkan pada suhu 28°C atau lebih harus ditunda atau dibatalkan. Namun, ketika dimintai komentar terkait analisis ini, serikat pemain tersebut menolak berkomentar.

Saat ini, pedoman FIFA menyatakan bahwa waktu istirahat untuk minum harus dilakukan jika pertandingan digelar di suhu 32°C atau lebih tinggi. Dalam praktiknya, jeda minum di Piala Dunia ini sudah terjadi pada suhu yang lebih rendah. Keputusan untuk menunda atau menghentikan pertandingan sepenuhnya berada di tangan penyelenggara kompetisi.

Pakar Desak FIFA Perketat Aturan Panas

Menjelang Piala Dunia, sekelompok pakar kesehatan masyarakat dan panas mengirimkan surat terbuka kepada FIFA. Mereka mendesak badan sepak bola dunia tersebut untuk menerapkan perlindungan panas yang lebih ekstensif, mengacu pada seruan Fifpro agar pertandingan berpotensi dibatalkan jika suhu mencapai 28°C atau lebih.

Robbie Parks, seorang ahli epidemiologi lingkungan dari Columbia University yang turut menandatangani surat tersebut, menyoroti bahaya bagi penonton dan pekerja stadion. "Suhu sering diukur dari area teduh. Jika pemain berada di bawah sinar matahari langsung, suhu yang mereka rasakan bisa jauh lebih tinggi dari angka yang tertera," ujarnya.

Parks menambahkan bahwa berdiri di bawah sinar matahari bisa berbahaya bahkan pada suhu yang lebih rendah. Ia menekankan pentingnya tempat teduh dan hidrasi, serta menyarankan agar penyelenggara mengizinkan penonton membawa air minum sendiri dan menyediakan alat pengabut untuk pendinginan evaporatif.

Jejak Karbon dan Ancaman Iklim

Turnamen ini diperkirakan menjadi Piala Dunia terpanas sejak kompetisi dimulai pada 1930. Ironisnya, penyelenggaraan lebih dari 100 pertandingan diperkirakan akan menghasilkan 7,8 juta ton gas rumah kaca, dua kali lipat dari jumlah emisi Piala Dunia sebelumnya di Qatar, menurut perkiraan Greenly, platform akuntansi karbon global.

Seorang juru bicara FIFA menyatakan bahwa badan pengatur tersebut "berkomitmen untuk melindungi kesehatan dan keselamatan semua pemain, wasit, penggemar, sukarelawan, dan staf" di Piala Dunia. Namun, para kritikus menilai langkah yang diambil saat ini belum cukup untuk menghadapi ancaman panas ekstrem yang terus meningkat.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top