Drama Gong Tradisi “Tirta Usada Segara” Angkat Sejarah dan Kearifan Lokal Desa Tengkulung di PKB 2026

Penulis: Xander Situmorang  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 23:08:19 WIB
Pementasan Drama Gong “Tirta Usada Segara” tampil memukau dalam PKB 2026 di Denpasar.

DENPASAR — Drama Gong “Tirta Usada Segara” menjadi salah satu sajian yang paling dinanti dalam rangkaian PKB 2026. Lakon yang dibawakan oleh Sekaa Gong Desa Tengkulung ini mengisahkan perjalanan tokoh legendaris dalam mencari tirta (air suci) untuk menyembuhkan warga. Pementasan ini sekaligus menjadi upaya pelestarian seni tradisi Bali yang mulai tergerus zaman.

Mengapa Drama Gong Ini Penting bagi Generasi Muda?

Ketua panitia pementasan, I Wayan Sujana, mengatakan bahwa Drama Gong “Tirta Usada Segara” dirancang agar relevan dengan kondisi kekinian. “Kami ingin generasi muda tidak hanya menonton, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ujarnya kepada wartawan di sela pementasan.

Lebih dari itu, kesenian ini disebut mampu melahirkan generasi seniman yang memiliki kemampuan berbahasa Bali yang baik. “Sekaligus menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya lokal,” imbuh Wayan.

Proses Kreatif dan Pelibatan Pemuda Desa

Persiapan pementasan berlangsung selama tiga bulan. Seluruh pemain dan penabuh gamelan berasal dari warga Desa Tengkulung, mulai dari remaja hingga orang tua. Mereka berlatih setiap malam di wantilan desa setelah pulang dari aktivitas sehari-hari.

“Yang membanggakan, 70 persen pemain adalah anak muda. Mereka belajar langsung dari seniman senior,” kata Wayan. Pendekatan ini diyakini efektif untuk regenerasi seniman Drama Gong di Bali.

Sinopsis Singkat “Tirta Usada Segara”

Lakon ini berkisah tentang seorang pendeta yang harus mencari air suci di tengah laut untuk menyembuhkan wabah yang melanda desa. Sepanjang perjalanan, ia diuji oleh berbagai rintangan dan makhluk gaib. Pesan moral yang ingin disampaikan adalah pentingnya gotong royong dan kearifan lokal dalam menghadapi bencana.

Pementasan ini juga menampilkan tarian massal dan tabuh kreasi baru yang memadukan gamelan tradisional dengan musik kontemporer. Penonton yang hadir tampak antusias mengikuti alur cerita hingga akhir.

Apa Harapan ke Depan untuk Drama Gong?

Wayan berharap pemerintah daerah terus mendukung kesenian Drama Gong melalui festival dan pendanaan. “Jangan sampai kesenian ini hanya jadi tontonan tahunan, tapi harus jadi tuntunan hidup,” tegasnya.

PKB 2026 sendiri masih akan berlangsung hingga akhir bulan depan. Sejumlah pementasan dari berbagai kabupaten dijadwalkan tampil secara bergiliran.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: radarbali.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top