Ratusan Pelajar SMP se-Bali Berlomba Egrang dan Terompah di Denpasar, Jantra Tradisi Bangkitkan Olahraga Rakyat

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:04:31 WIB
Peserta lomba egrang menjaga keseimbangan di lintasan bambu dalam Jantra Tradisi Bali di Denpasar.

DENPASAR — Sorak penonton memecah suasana saat peserta nomor Matajog Putra berlomba menjaga keseimbangan di atas dua batang bambu. Egrang bambu setinggi lutut orang dewasa itu harus dijinakkan dalam lintasan lurus tanpa boleh terjatuh. Di nomor lain, tim Terompah Putri beradu cepat dengan sandal kayu panjang yang mengharuskan setiap anggota bergerak serempak. Sementara itu, pertandingan Hadang Putra berlangsung sengit dengan strategi dan kerja sama tim sebagai penentu kemenangan.

Membentuk Karakter Lewat Permainan Rakyat

Kepala Bidang Tradisi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Putu Sutaryana, mengatakan Jantra Tradisi Bali tahun ini mengusung semangat tema PKB XLVIII, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha. Tema itu dimaknai sebagai upaya memurnikan jiwa melalui pelestarian budaya.

"Permainan tradisional bukan sekadar olahraga, tetapi juga membentuk karakter, melatih keseimbangan, keberanian, disiplin, hingga kerja sama. Melalui Jantra Tradisi Bali kami ingin generasi muda kembali mengenal dan mencintai warisan budaya yang mulai ditinggalkan," ujarnya.

Menurut Sutaryana, cabang Matajog dan Terompah sengaja dipilih untuk menghidupkan kembali permainan yang kini jarang dimainkan anak-anak. Pelestarian budaya, kata dia, tidak cukup hanya lewat seni pertunjukan. Permainan rakyat harus kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

50 Peserta per Nomor, Anggaran Jadi Kendala

Setiap nomor lomba diikuti sekitar 50 peserta yang merupakan hasil seleksi dari sembilan kabupaten/kota di Bali. Namun, tidak seluruh daerah mampu mengirimkan wakil di semua cabang perlombaan.

"Dari sembilan kabupaten/kota, ada beberapa yang belum bisa mengirimkan peserta di seluruh nomor lomba. Kendala utamanya memang anggaran," kata Sutaryana.

Pada hari pertama, Kabupaten Badung mendominasi dengan meraih Juara I pada nomor Terompah Putri dan Matajog Putra. Kota Denpasar menjadi juara kedua di kedua nomor tersebut. Kabupaten Buleleng meraih Juara III Terompah Putri, sementara Kabupaten Tabanan menempati posisi ketiga Matajog Putra.

Menggali Sejarah Permainan Kelik-Kelikan

Selain pertandingan, Jantra Tradisi Bali menghadirkan demonstrasi permainan rakyat Kelik-Kelikan dari Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Permainan itu dipentaskan Komunitas Sanggar Seni Suradiva Tampaksiring melalui sajian seni meplalianan dan bobondresan anak-anak.

Pembina komunitas, I Ketut Gede Agus Adi Saputra, mengatakan pertunjukan itu bertujuan menggali kembali sejarah permainan Kelik-Kelikan. Permainan ini lahir dari kisah masyarakat Desa Sulahan saat menghadapi bencana kekeringan dan berebut sumber air dengan kawanan burung kekelik.

"Melalui pementasan ini kami ingin mengenalkan kembali permainan rakyat yang sarat nilai sejarah dan budaya kepada generasi muda," ujarnya.

Rangkaian Jantra Tradisi Bali akan berlanjut pada Jumat (3/7/2026) dengan mempertandingkan nomor Deduplak Putra dan Hadang Putri sebagai penutup lomba olahraga tradisional dalam PKB XLVIII Tahun 2026.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: kanalbali.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top