TABANAN — Area kosong yang sempit di antara bangunan dan tembok Lapas Kelas IIB Tabanan, Bali, kini tidak lagi menjadi lahan mati. Ruang tersebut disulap menjadi kandang ayam petelur yang dikelola langsung oleh warga binaan, dengan hasil produksi mencapai puluhan butir telur per hari.
Sebanyak 114 ekor ayam dipelihara di lokasi tersebut. Dari jumlah itu, para warga binaan mampu mengumpulkan rata-rata 90 butir telur setiap harinya.
Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menyebut inisiatif ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian. Menurutnya, kegiatan ini dirancang untuk membekali warga binaan dengan keahlian praktis yang bisa langsung diterapkan di dunia nyata.
"Peternakan ayam petelur menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan praktis, tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam mendukung ketahanan pangan internal," ujar Prawira dalam keterangannya pada Rabu (5/8/2026).
Ia menambahkan, seluruh potensi yang tersedia di lingkungan lapas harus bisa dimanfaatkan secara optimal. Hal ini sejalan dengan upaya menciptakan kualitas pembinaan yang semakin baik bagi para penghuni lapas.
Hasil produksi telur dari kandang ini tidak seluruhnya dipasarkan ke luar. Sebagian hasil panen dialokasikan sebagai bahan baku untuk kegiatan tata boga dalam program kerja di Lapas Tabanan. Sementara itu, sebagian lainnya dijual kepada petugas lapas.
Bagi warga binaan, keterlibatan dalam pengelolaan peternakan ini memberikan pengalaman baru. Made, salah satu warga binaan yang mengelola kandang, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga selama delapan bulan terakhir.
"Saya belajar bagaimana merawat ayam petelur dengan baik agar menghasilkan telur yang berkualitas. Pengalaman ini sangat bermanfaat karena memberikan keterampilan yang bisa saya kembangkan nanti setelah bebas, bahkan dimulai dari skala kecil di rumah," ungkapnya.
Kegiatan ini tidak sekadar memelihara unggas. Lebih dari itu, warga binaan diajak mempelajari seluruh rantai pengelolaan usaha peternakan. Mereka dibekali cara merawat ayam, menjaga kebersihan dan kondisi kandang, hingga memastikan kualitas telur yang dihasilkan tetap terjaga.
Program ini menjadi contoh pemanfaatan lahan terbatas yang produktif. Selain mengurangi ketergantungan pangan internal, kegiatan ini juga menjadi sarana rehabilitasi sosial melalui keterampilan kerja yang nyata bagi warga binaan Lapas Tabanan.