Mereren Festival 2026 di Pantai Pererenan Badung Diikuti 8 Negara, Puluhan Layangan Hiasi Langit

Penulis: Xander Situmorang  •  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:48:02 WIB
Ribuan pengunjung memadati kawasan Pantai Pererenan, Badung, untuk menyaksikan puluhan layangan tradisional dan kontemporer menghiasi langit pada Jumat (21/8).

BADUNG — Ribuan pengunjung memadati kawasan Pantai Pererenan, Mengwi, Badung, Jumat (21/8) sore, menyaksikan puluhan layangan tradisional dan kontemporer menghiasi langit yang cerah. Para peserta berjalan kaki dari Nouma Resort menuju pantai sejauh sekitar satu kilometer sambil diiringi gamelan Bale Ganjur, membawa layangan jenis Celepuk, Bebean, Cotek, Tantri, hingga Kerapu.

Delapan Negara Ikut Meramaikan Festival Layang-Layang Internasional

Festival Director Mereren Festival 2026 sekaligus General Manager Noema Resort Pererenan, Ricky Tanza, menyebutkan partisipan tahun ini datang dari Korea, Thailand, Denmark, Inggris, Australia, dan Singapura. Ia menjelaskan, nama "Mereren" diambil dari bahasa lokal yang berarti berhenti sejenak atau to pause.

"Festival tahunan ini kami namakan 'Mereren', yang berarti berhenti sejenak (to pause)," ujar Ricky di sela-sela acara, Jumat (21/8).

Bukan Sekadar Layang-Layang: Ada Pasar, Workshop, dan Talkshow

Rangkaian kegiatan festival tidak berhenti pada penerbangan layang-layang. Selama tiga hari, pengunjung dapat menikmati pertunjukan live music dan musik tradisional, mengikuti workshop pembuatan keramik, serta belajar mengolah plastik daur ulang menjadi jam tangan. Acara Dinner Under the Kite turut digelar di area rooftop dengan menghadirkan kolaborasi Chef Dom dari Filipina bersama chef lokal yang menyajikan makanan organik.

Pihak penyelenggara juga membuka Pasar Pererenan di area restoran serta menggelar talkshow edukatif bersama panelis sustainability, di antaranya Sureco dan Daur Tera. Dari sisi seni, pengunjung dapat menyaksikan kolaborasi Wayang Lemah dengan Putu Septa atau mengikuti workshop tari tradisional.

Tanpa Plastik Sekali Pun: Komitmen Keberlanjutan Jadi Prioritas

Aspek keberlanjutan menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan festival tahun ini. Ricky menegaskan, pihaknya menerapkan aturan tanpa plastik sama sekali di seluruh area acara. Pengelolaan sampah kering ditangani Daur Tera, sampah umum dikelola BUMDes, sementara limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) ditangani vendor bersertifikat khusus.

"Sesuai visi pemilik hotel untuk menjadikan tempat ini sebagai percontohan sustainability, kami menerapkan aturan tanpa plastik sama sekali. Semua material sudah didaur ulang," tambahnya.

Dampak Ekonomi untuk Warga Sekitar

Mengusung tema "Wind, Wave, Neighborhood", festival ini dirancang untuk menghubungkan alam dengan masyarakat sekitar. Konsep Neighborhood diwujudkan dengan melibatkan seniman, perajin, dan pelaku UMKM lokal agar merasakan dampak ekonomi langsung dari kegiatan ini.

Untuk memperkuat keterlibatan tersebut, panitia meluncurkan Passport Mereren. Melalui program ini, tamu dapat berkeliling ke 31 tetangga atau tenant UMKM di sekitar kawasan untuk mendapatkan stempel sekaligus menikmati diskon khusus.

"Target dari event ini utamanya memperkenalkan potensi daerah Pererenan. Kami tidak ingin tempat ini hanya dikenal karena keramaiannya, melainkan sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman budaya dan seni yang mendalam," ujarnya.

Layang-Layang Jadi Ikon: Berawal dari Tradisi Warga Setempat

Dipilihnya layang-layang sebagai ikon utama festival tidak lepas dari sejarah berdirinya Noema Resort setelah pandemi Covid-19. Saat itu, warga desa setempat telah memiliki tradisi kompetisi layang-layang. Pihak hotel kemudian menghidupkan kembali tradisi tersebut bersama kurator Kadek Armika.

"Tiga layang-layang tradisional di lobi kami adalah ikon dari inisiatif tersebut, dan kompetisi ini akan terus kami adakan setiap tahun," pungkas Ricky.

Sementara itu, tingkat okupansi Noema Resort Pererenan saat ini tercatat sekitar 70 persen. Tamu masih didominasi wisatawan domestik, Australia, dan Amerika Serikat, dengan sebagian besar melakukan pemesanan secara mendadak.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: dutabalinews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top