DEPOK — FIB UI menggandeng Yayasan Jati Nusa Lestari (Janusa) dalam program konservasi bertajuk "FIB UI x Jatinusa: Sinergi Hijau untuk Lingkungan". Seremoni di Auditorium Toeti Heraty N. Roosseno ini menjadi titik awal kolaborasi strategis yang menghubungkan pelestarian alam dengan nilai-nilai humaniora.
Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, S.S., menegaskan program ini bukan sekadar aksi menanam pohon. Ia menyebut kolaborasi tersebut bertujuan membangun kesadaran ekologis dan memperkuat tanggung jawab sosial di lingkungan kampus.
Pemilihan jati merah memiliki dimensi ekologis dan kultural. Dari sisi lingkungan, jati merah tumbuh relatif cepat dan beradaptasi dengan berbagai kondisi lahan, sehingga efektif untuk penghijauan dan konservasi.
Dari perspektif humaniora, kata "jati" dimaknai sebagai "kejatian" atau jati diri. FIB UI mengusung gagasan "menanam kejatian", yaitu menanam nilai kejujuran, keteguhan, kepedulian, dan tanggung jawab melalui proses yang panjang dan berkelanjutan.
"Sebagaimana pohon memerlukan waktu, kesabaran, dan perawatan untuk tumbuh kokoh, demikian pula karakter manusia dan jati diri bangsa dibangun melalui proses panjang yang memerlukan komitmen dan ketekunan," tutur Dr. Untung Yuwono.
Program adopsi ini dirancang sejalan dengan komitmen FIB UI mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Tiga pilar SDGs disentuh langsung oleh inisiatif ini.
Rangkaian seremoni dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat adopsi bibit pohon jati secara simbolis. Sertifikat diberikan kepada empat kategori pengadopsi: pimpinan/dekanat, guru besar, kepala departemen, dan alumni FIB UI.
Acara berlanjut dengan diskusi interaktif bertajuk "Ekologi Humaniora Nusantara: Mengembalikan Kesejatian Alam dan Karakter Nusantara melalui Konservasi Pohon Jati Merah". Diskusi dimoderatori Dr. Junaidi, S.S., M.A., Manajer Kerja Sama dan Ventura FIB UI, dengan menghadirkan Novi Dwi Jayanti (Ketua Pengurus Janusa) dan Budianto Tanudjaja (Ketua Pengawas Janusa) sebagai pembicara.
Dr. Untung Yuwono berharap program ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi berkembang menjadi gerakan kolektif yang melibatkan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat luas.