BALI — Setelah berhasil melewati kehamilan dan persalinan pertama, sebagian pasangan mengira program hamil anak kedua akan berjalan mulus. Kenyataannya, tidak sedikit yang justru merasa lebih sulit dan butuh waktu lebih lama. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut secondary infertility atau infertilitas sekunder, yaitu kesulitan hamil kembali setelah sebelumnya pernah hamil.
Kabar baiknya, hal ini bukan akhir dari segalanya. Dengan memahami penyebabnya, Ayah dan Bunda bisa mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan peluang kehamilan. Berikut ulasan lengkapnya.
Salah satu pemicu terbesar sulitnya hamil anak kedua adalah bertambahnya usia, terutama jika Bunda kini berada di pertengahan hingga akhir usia 30-an. Seiring waktu, jumlah dan kualitas sel telur menurun drastis.
"Wanita berusia pertengahan hingga akhir 30-an dan lebih tua lebih mungkin mengalami infertilitas sekunder karena jumlah sel telur berkurang seiring bertambahnya usia," jelas Laura Detti, MD, dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, mengutip Cleveland Clinic.
Namun, Dr. Detti mengingatkan agar tidak berkecil hati. Usia yang lebih matang hanya berarti waktu untuk mencoba lebih terbatas, bukan berarti mustahil untuk hamil lagi.
Kesulitan mendapatkan anak kedua tidak melulu soal kondisi Bunda. Faktor kesuburan dari pihak Ayah juga bisa berubah seiring waktu dan sangat memengaruhi keberhasilan pembuahan.
Jumlah sperma yang rendah, pergerakan lambat, atau bentuk abnormal dapat mempersulit proses bertemunya sel telur dan sperma. Kebiasaan seperti merokok, konsumsi alkohol, hingga penggunaan suplemen testosteron perlu diwaspadai.
"Testis berada di luar tubuh tentu ada alasannya. Jika suhunya terlalu panas, baik akibat pakaian ketat seperti celana pendek untuk bersepeda maupun penggunaan perangkat elektronik, hal tersebut dapat memengaruhi jumlah sperma," tambah Dr. Laura Detti.
Selain usia dan kondisi suami, ada beberapa gangguan kesehatan serta gaya hidup yang menjadi biang keladi sulitnya promil anak kedua:
Tidak ada jaminan instan, namun langkah-langkah berikut bisa membuat program hamil anak kedua lebih efektif dan terarah.
Peluang hamil akan meningkat pesat jika hubungan intim dilakukan tepat di sekitar waktu ovulasi. Bunda bisa memantau siklus menstruasi, mengamati perubahan lendir serviks, atau menggunakan alat prediksi ovulasi untuk menentukan waktu terbaik.
Menjaga berat badan tetap sehat sangat krusial. Kelebihan berat badan dapat menurunkan tingkat keberhasilan implantasi embrio. Sebaliknya, kekurangan berat badan juga tidak baik. Pastikan asupan nutrisi harian seimbang untuk mendukung kesuburan kedua belah pihak.
Mengurangi alkohol adalah langkah bijak untuk Ayah dan Bunda. Konsumsi alkohol sedang hingga berat terbukti mengganggu hormon dan menghambat produksi sperma serta sel telur yang sehat.
Berhenti merokok adalah investasi terbaik untuk kesuburan. Racun dalam rokok merusak kualitas sel telur dan sperma secara signifikan, sehingga mengurangi peluang terjadinya kehamilan yang sehat.
Meski tidak disebutkan langsung sebagai penyebab, stres dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan libido. Luangkan waktu untuk relaksasi bersama pasangan tanpa memikirkan target kehamilan sesaat.
Jangan ragu untuk memeriksakan kualitas sperma suami sejak awal. Analisis sperma sederhana bisa mengungkap masalah yang mungkin tidak disadari, sehingga penanganan bisa lebih cepat dilakukan.
Jika Bunda berusia di atas 35 tahun dan sudah berusaha lebih dari 6 bulan tanpa hasil, atau jika menstruasi tidak teratur, segera konsultasikan dengan dokter spesialis. Penanganan dini akan memberikan hasil yang jauh lebih baik.
Menjalani program hamil anak kedua memang bisa menjadi perjalanan yang penuh tantangan, tetapi bukan berarti mustahil. Dengan memahami kondisi tubuh, mengubah gaya hidup, dan mendapatkan dukungan medis yang tepat, peluang untuk menyambut anggota keluarga baru tetaplah terbuka lebar.