BALI — Pada 9 September 2014, dalam acara peluncuran iPhone 6, CEO Apple Tim Cook mengumumkan bahwa album "Songs of Innocence" dari band U2 akan diberikan gratis ke setiap pengguna iTunes. Album itu langsung tertaut ke akun pengguna, dan perangkat yang mengaktifkan opsi "download automatically" menerima file lagu tanpa persetujuan pemiliknya.
Keputusan itu memicu gelombang keluhan. Banyak pengguna merasa tidak pernah meminta album tersebut muncul di perangkat mereka, dan sebagian kesulitan menghapusnya secara permanen dari pustaka musik.
Pada 15 September 2014, Apple akhirnya merilis sebuah halaman web khusus yang berfungsi untuk satu hal: menghapus album U2 dari akun pengguna. Prosesnya cukup satu klik.
Pengguna yang sudah menghapus album tetap diberi waktu satu bulan untuk mengunduh ulang secara gratis jika berubah pikiran. Halaman tersebut kini sudah tidak aktif, tetapi arsipnya masih bisa diakses melalui layanan penyimpanan web.
Apple menyebut 26 juta orang akhirnya mengunduh album lengkap tersebut. Angka itu menunjukkan jangkauan distribusi yang sangat besar, meski tidak semua pengguna menerimanya dengan senang hati.
Sebulan setelah insiden, vokalis U2, Bono, menyampaikan permintaan maaf terkait cara album itu didistribusikan ke perangkat pengguna.
Kasus ini menjadi contoh awal bagaimana kontrol pengguna atas konten digital menjadi isu sensitif. Menempatkan file langsung ke akun tanpa persetujuan eksplisit, meski gratis, tetap dianggap sebagai pelanggaran batas oleh banyak orang.
Bagi Apple, kejadian itu menjadi pelajaran soal pentingnya persetujuan pengguna sebelum mendorong konten ke perangkat mereka. Hingga kini, tidak ada lagi peluncuran album besar-besaran yang dilakukan dengan cara serupa.
Pengguna iTunes saat itu memang bisa menghapus album dengan cepat, tetapi jejak insiden ini tetap tercatat sebagai salah satu momen paling janggal dalam sejarah layanan digital Apple.