DENPASAR — Mahendri berangkat ke Tiongkok setelah lolos seleksi peserta dari Indonesia dalam program yang digelar Northeast Normal University dengan dukungan pendanaan Ministry of Commerce of the People's Republic of China. Selama 20 hari, peserta menerima materi akademik sekaligus bertukar pengalaman soal perkembangan pendidikan digital di negara masing-masing.
Rangkaian kegiatan mencakup kuliah umum, studi kasus, praktik profesional, dan kunjungan budaya. Peserta tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga melihat langsung praktik pendidikan di sejumlah institusi setempat.
Pemanfaatan kecerdasan artifisial menjadi salah satu topik utama. Peserta mempelajari penggunaan AI untuk mendukung pembelajaran, asesmen, pengembangan kompetensi guru, hingga pengelolaan sumber daya pendidikan digital dan konsep smart teacher.
Materi itu relevan dengan keseharian Mahendri sebagai guru kejuruan RPL yang aktif mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi. Menurutnya, guru kini perlu lebih dari sekadar menguasai aplikasi digital.
"Teknologi terus berkembang, sehingga guru juga harus terus belajar. Yang paling penting bukan seberapa banyak teknologi yang kita gunakan, tetapi bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan dampak pada proses belajar murid," ujarnya.
Kemudahan AI menghasilkan teks, gambar, dan kode program dinilai memunculkan tantangan baru. Guru perlu merancang pembelajaran yang tetap mendorong murid memahami proses, bukan hanya mengejar hasil akhir.
Penguatan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, dan refleksi disebut menjadi kunci. AI diposisikan sebagai alat bantu, sementara guru tetap mengarahkan proses belajar.
Peserta mengunjungi sejumlah institusi pendidikan dan perguruan tinggi, di antaranya Beijing Institute of Technology (BIT), Shanghai Vancouver Film School (SHVFS), Northeast Normal University (NENU) & Affiliated High School, serta Huaze School.
Dari kunjungan itu, peserta melihat lebih dekat pengembangan kurikulum, tata kelola lembaga pendidikan, pengembangan kompetensi guru, hingga peluang beasiswa. Mereka juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi secara langsung, termasuk hands-on teknologi dalam pembelajaran matematika dan bahasa Inggris.
Pembahasan mengenai perkembangan AI dan pengaruhnya terhadap industri kreatif, seperti perfilman, turut menjadi bahan diskusi. Bagi Mahendri, kunjungan tersebut menjadi ruang refleksi untuk menimbang kebutuhan pendidikan di Indonesia.
Dalam pembelajaran RPL, Mahendri memilih tidak melarang penggunaan AI. Ia justru menelaah bagaimana murid memanfaatkannya, misalnya dengan meminta murid menceritakan proses penggunaan AI atau mengumpulkan riwayat interaksinya.
Cara itu dinilai memungkinkan guru melihat proses berpikir, pemahaman, dan tanggung jawab murid dalam menggunakan teknologi. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bentuk asesmen yang lebih jujur di tengah maraknya AI generatif.
Rangkaian program juga diisi kegiatan budaya, termasuk kunjungan ke Great Wall dan Shanghai Circus World. Pengalaman itu memperkaya pemahaman peserta mengenai sejarah, budaya, kreativitas, dan kehidupan masyarakat Tiongkok.
Selain mengajar RPL di SMK Negeri 1 Denpasar, Mahendri aktif sebagai Duta Teknologi Kemendikdasmen. Pengalaman belajar di Tiongkok disebut memperkaya perjalanannya dalam mengembangkan dan berbagi praktik pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan.