UID Bali Campus dan Tsinghua Kembangkan Konsep Kota Berbasis AI yang Padukan Tri Hita Karana

Penulis: Yanto Prasetya  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 13:29:31 WIB
Presiden Komisaris PT BTID Tantowi Yahya berbicara dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus Kura-Kura Bali, Denpasar.

United in Diversity (UID) Bali Campus bersama Tsinghua Southeast Asia Center mengembangkan konsep penataan kota berbasis kecerdasan buatan yang memadukan teknologi dengan nilai lokal Tri Hita Karana. Konsep itu diwujudkan lewat program Happy Digital X, yang menggabungkan AI, design thinking, dan systems thinking untuk menciptakan lingkungan perkotaan lebih membahagiakan bagi warganya. Kolaborasi ini dibahas dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus Kura-Kura Bali, Denpasar.

DENPASAR — Presiden Komisaris PT Bali Turtle Island Development (BTID) Tantowi Yahya menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup menjadi fondasi pembangunan kota. Menurut dia, nilai-nilai yang hidup di masyarakat harus ikut masuk ke dalam rancangan perkotaan, termasuk Tri Hita Karana yang menjadi pegangan warga Bali.

"Yang lebih penting adalah semua itu digabungkan supaya kita bisa menciptakan kota-kota yang lebih membahagiakan untuk warganya," kata Tantowi dalam forum tersebut, Minggu.

Pendekatan itu membuat pembangunan tidak berhenti pada infrastruktur fisik dan perangkat teknologi. Tantowi menyebut dimensi nilai justru menentukan apakah sebuah kota benar-benar layak dihuni atau tidak.

Happy Digital X: AI Dipakai untuk Merancang Kota, Bukan Sekadar Otomasi

Program Happy Digital X menjadi kendaraan utama gagasan tersebut. Di dalamnya, kecerdasan buatan diposisikan sebagai alat bantu perencanaan yang bekerja bersama design thinking dan systems thinking.

Tujuannya bukan mengejar efisiensi teknis semata, melainkan membentuk lingkungan perkotaan yang memberi dampak langsung pada kualitas hidup penghuninya. AI masuk sebagai lapisan analisis, sementara nilai lokal jadi rambu arah.

Sumedang Jadi Rujukan: Stunting Turun 50 Persen

Direktur UID Bali Campus Shobi Lawalata menyebut kolaborasi dengan Tsinghua University diarahkan pada solusi yang bisa diterapkan di pembangunan daerah dan pelayanan publik. Bukan berhenti sebagai prototipe laboratorium.

Shobi menyinggung penerapan inovasi bersama Tsinghua dalam upaya menekan angka stunting di Sumedang, Jawa Barat. Ia menyebut penurunan stunting di sana mencapai 50 persen dari tahun ke tahun.

Angka itu menjadi contoh bagaimana teknologi yang dirancang bersama perguruan tinggi bisa menyentuh persoalan warga secara konkret, bukan hanya di atas kertas.

Talenta Digital Bali dan Peran Garuda Spark Hub

UID dan Tsinghua Southeast Asia Center juga mendorong pengembangan talenta digital di Bali melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika.

UID disebut telah ditunjuk sebagai salah satu Garuda Spark Hub Innovation Hub. Posisi itu menjadikannya titik penghubung bagi berbagai inisiatif dan aktivitas komunitas, sekaligus memperluas akses talenta Bali terhadap pendidikan AI dan teknologi lain.

Menurut Shobi, pengembangan AI tidak cukup mengandalkan investasi pada mesin dan infrastruktur fisik. Transfer pengetahuan dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia menjadi bagian yang sama pentingnya.

Mengapa Kerja Sama dengan Kampus dan Industri China Dianggap Penting

Kerja sama dengan perguruan tinggi dan pelaku industri di China diharapkan membuka peluang bagi generasi muda. Mereka bisa memperoleh pendidikan, pengalaman, dan paparan terhadap perkembangan teknologi mutakhir.

Shobi menilai pembangunan kapasitas teknologi di Indonesia hanya bisa berjalan kalau manusia dan mesin diperlakukan sebagai dua hal yang saling melengkapi. Bukan salah satu dikorbankan demi yang lain.

Dari forum itu, arah gagasan UID dan Tsinghua cukup jelas: kota berbasis AI tidak dirancang sebagai proyek teknologi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan warga. Nilai lokal tetap di depan, teknologi menyusul di belakang.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: bali.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top