BALI — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino bertahan hingga Februari 2027 dengan probabilitas hampir 100 persen, memicu risiko kekeringan dan banjir di berbagai wilayah. Indeks Nino 3.4 di Pasifik diprediksi menembus 3,7 derajat Celsius pada Oktober-Desember, melampaui rekor 2,6 derajat Celsius pada 2015. BMKG menyebut musim hujan 2026/2027 di Indonesia datang terlambat dan berlangsung lebih singkat.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menyatakan El Nino telah terbentuk kuat dan intensitasnya meningkat cepat. Prakiraan itu disusun dari konsensus 13 pusat pengamatan iklim nasional dan internasional, memakai data pelampung laut, satelit, dan radiosonde secara real-time.
Indeks Nino 3.4 yang mengukur suhu permukaan laut Pasifik naik tajam dari rata-rata 1,6 derajat Celsius di atas normal pada Juni 2026 menjadi 2,5 derajat Celsius di atas normal pada Agustus. Pada periode Oktober-November-Desember, indeks itu diperkirakan mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius.
Angka tersebut akan menjadi rekor tertinggi sejak pengamatan dimulai, jauh melampaui rekor sebelumnya di 2,6 derajat Celsius pada 2015. Laporan Layanan Iklim Copernicus Uni Eropa, NOAA, dan NASA juga mencatat Agustus tahun ini sebagai Agustus terpanas dalam sejarah.
"El Nino tidak menambahkan panas baru ke planet ini. Fenomena ini melepaskan panas yang telah disimpan lautan di bawah permukaan, itulah sebabnya fenomena yang kuat berujung menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat," kata Saulo.
WMO memperkirakan curah hujan bergeser besar seiring menguatnya El Nino. Wilayah sekitar Pasifik tengah dan timur di sebelah timur Date Line berpotensi mengalami curah hujan di atas normal, kemungkinan meluas ke Tanduk Afrika, Asia Tengah, Asia Timur, Semenanjung Arab, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Sebaliknya, kekeringan di atas normal diprediksi terjadi di sekitar Pasifik barat dan Samudra Atlantik, meliputi subkontinen India, Amerika Tengah, dan Karibia. Indonesia masuk daftar wilayah yang akan mengalami kekeringan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut gabungan El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) membuat musim hujan 2026/2027 datang terlambat dan berlangsung lebih singkat. IOD sendiri sangat memengaruhi curah hujan di sekitar Samudra Hindia dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober.
Sepanjang Oktober hingga Desember, anomali suhu diperkirakan naik sekitar 0,5 derajat Celsius. Kombinasi dua fenomena ini memperkuat potensi kondisi musiman yang lebih kering dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia.
Bagi pelaku sektor pertanian dan pengelola sumber daya air, pergeseran pola hujan ini menjadi peringatan dini untuk menyesuaikan jadwal tanam dan cadangan air. Pemantauan berkala dari BMKG dan WMO akan menentukan seberapa besar dampak yang harus diantisipasi hingga awal 2027.