BALI — Kebakaran hutan dan lahan di Papua melampaui 30.000 hektare sepanjang 2026, dengan Papua Selatan sebagai wilayah terdampak terluas mencapai 25.838 hektare. Data Sipongi Kementerian Kehutanan itu memicu seruan publik agar kawasan Indonesia Timur tidak luput dari perhatian di tengah sorotan karhutla Kalimantan dan Sumatra.
Kebakaran hutan di Papua Selatan menghasilkan kabut asap tebal yang disebut menyebar ke sejumlah provinsi lain di Papua. Dampaknya mulai terasa pada kualitas udara dan jadwal penerbangan di beberapa kota.
Selebriti sekaligus komika asal Papua, Arie Kriting, melalui akun @arie_kriting menyoroti kondisi tersebut. Ia menyebut kebakaran serupa juga terjadi di Maluku dan Sulawesi.
"Di Papua juga terjadi kebakaran hutan yang masif. Di Maluku juga. Di Sulawesi juga. Yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera selama bertahun-tahun kini juga di rasakan di kawasan Indonesia Timur. Kemarin saya pas pulang ke Sulawesi juga merasakan bagaimana kualitas udara yang memburuk karena asap. Di beberapa kota di Papua bahkan penerbangan ditutup karena kabut asap yang menghalangi jarak pandang. Ini kebakaran hutan nyaris mencakup seluruh wilayah Indonesia," tulis Arie Kriting.
Laporan Mongabay Indonesia yang dirilis 1 Oktober 2026 mengutip data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan. Indikasi karhutla di Papua telah melampaui 30.000 hektare sepanjang 2026.
Papua Selatan mencatat luasan terbesar, sekitar 25.838 hektare. Indikasi area terbakar di Papua Tengah mencapai sekitar 2.520 hektare, sedangkan Papua Barat sekitar 2.496 hektare.
Angka-angka itu menegaskan kebakaran di Papua bukan sekadar isu yang muncul di media sosial. Luasan yang tercatat menjadikan Papua salah satu titik kritis karhutla nasional tahun ini.
Netizen dengan akun @celxxxxxo mengingatkan bahwa kabut asap dari Papua Selatan menyebar ke sejumlah provinsi lain di Papua. "Apakah dunia tau bahwa di ujung pulau Indonesia yaitu Papua Selatan sedang terjadi kebakaran hutan yang luar biasa hingga menyebabkan kabut asap tebal kiriman ke beberapa provinsi papua lainnya. Sehat-sehat semua sodara disana," ujarnya.
Akun @TutxxxxxxxI mempertanyakan status bencana nasional untuk karhutla yang terjadi dari Sumatra hingga Papua. "Dari sumatera sampe papua kebakaran dan blm jadi bencana nasional," tulisnya.
Unggahan lain menyoroti kebakaran di kawasan KM 71, Fakfak, Papua Barat, yang disebut turut menimpa Raja Ampat. "Jangan lupakan Papua. Hutan di KM 71, Fakfak, Papua Barat ikut dilalap, dan Raja Ampat disebut dalam kabar yang sama. Yang terbakar bukan cuma kayu: rumah satwa dan warisan yang tidak bisa ditanam ulang semester depan. Semoga api cepat padam," tulis akun @SUNxxxxxxxxxxxK.
Perhatian terhadap karhutla di Indonesia secara historis terpusat pada Kalimantan dan Sumatra. Kedua wilayah itu memang langganan kebakaran musiman dengan skala besar setiap tahun.
Papua jarang masuk pembicaraan arus utama meski luas area terbakarnya signifikan. Kondisi geografis yang terpencil dan keterbatasan liputan di lapangan membuat informasi dari Indonesia Timur lebih lambat sampai ke publik nasional.
Dampak asap terhadap penerbangan di beberapa kota di Papua menambah urgensi. Kabut asap yang menghalangi jarak pandang berpotensi mengganggu mobilitas warga dan distribusi logistik ke wilayah pedalaman.
Data Sipongi Kementerian Kehutanan per 1 Oktober 2026 menunjukkan tren karhutla yang belum surut. Pemantauan lanjutan diperlukan untuk melihat apakah luas area terbakar di Papua akan terus bertambah seiring masuknya periode kemarau di wilayah selatan.