BALI — Gubernur Bank Indonesia mendesak percepatan industrialisasi nasional untuk mengakhiri ketergantungan pada ekspor komoditas yang harganya berfluktuasi di pasar global. Peringatan itu muncul saat posisi Indonesia dalam Economic Complexity Index justru mengalami kemunduran dibanding satu dekade lalu, tertinggal dari Vietnam dan Thailand di kawasan Asia Tenggara.
Desakan tersebut disampaikan Gubernur BI di tengah struktur ekspor nasional yang masih didominasi barang berbasis sumber daya alam serta produk berteknologi rendah hingga menengah. Data Atlas of Economic Complexity mencatat kompleksitas ekonomi Indonesia tidak membaik, bahkan cenderung menurun dibanding sepuluh tahun silam.
Ketergantungan pada komoditas membuat penerimaan devisa rentan terhadap gejolak harga global. Ketika harga komoditas turun, tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar ikut menguat.
Indikator Economic Complexity Index (ECI) menempatkan Indonesia di bawah Vietnam dan Thailand. Kedua negara itu berhasil memperbaiki struktur ekspornya ke produk bernilai tambah tinggi, sementara Indonesia masih berkutat pada barang mentah dan setengah jadi.
Kekayaan sumber daya alam yang melimpah berpotensi menjadi belenggu pertumbuhan jika tidak disertai penguasaan pengetahuan dan teknologi. Pola yang berulang: mengekspor bahan mentah bernilai rendah, lalu mengimpor barang manufaktur kompleks bernilai tinggi dari negara lain.
Kebijakan hilirisasi berhasil mengangkat nilai ekspor secara nominal. Namun, pengolahan dalam skema tersebut sebagian besar masih berada di tahap awal dan belum disertai penyerapan teknologi krusial serta transfer pengetahuan ke industri domestik.
PRAKARSA menyoroti ketimpangan antara kuantitas diversifikasi ekspor dan kualitas kapabilitas domestik. Ukuran keberhasilan industrialisasi tidak cukup dilihat dari besarnya investasi asing dan volume ekspor, karena hanya menempatkan Indonesia sebagai tempat pemrosesan bahan baku.
Yang dibutuhkan adalah memperdalam rantai pasok yang melibatkan pelaku usaha lokal. Dengan begitu, industri nasional berpeluang memperkuat daya saing dan kapasitas inovasi secara mandiri.
Reindustrialisasi perlu difokuskan pada sektor manufaktur yang memiliki kedekatan kapabilitas dengan industri yang berjalan saat ini, tetapi mampu membawa Indonesia ke tahapan kompleksitas teknologi lebih tinggi. Prioritas bergeser dari sekadar memindahkan lokasi pengolahan komoditas menjadi akumulasi pengetahuan dan peningkatan keahlian tenaga kerja.
Logika itu sejalan dengan gagasan product space dalam literatur kompleksitas ekonomi yang dipelopori Hausmann, Klinger, dan Hidalgo. Jarak antarproduk menunjukkan peluang sebuah negara memproduksi barang baru jika kapabilitas pendukungnya sudah dimiliki.
Satu negara cenderung berhasil berpindah ke produk yang kapabilitasnya sudah tersedia. Peluang terdekat karena itu ada pada penguatan rantai nilai yang sudah berjalan, bukan lompatan tanpa pijakan.
Penguatan rantai nilai membutuhkan fondasi sumber daya manusia yang memadai, disertai kerja sama riset antara dunia industri dan perguruan tinggi. Fondasi itu harus disiapkan lebih dahulu, bukan menyusul, karena pengabaian terhadapnya membuat kompleksitas ekonomi terus tergerus.
Di sisi kebijakan, insentif bagi investasi asing perlu disertai kewajiban transfer teknologi dan penggunaan komponen lokal dengan tahapan terjadwal. Pemerintah juga tidak bisa membiarkan pembangunan ekosistem penelitian dan pengembangan lepas dari kebutuhan industri nasional.
Tanpa keterkaitan itu, hilirisasi hanya memberi ruang lebar bagi pemodal asing tanpa meninggalkan jejak peningkatan kapasitas teknologi di dalam negeri. Bagi investor, arah kebijakan ini menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur bernilai tambah dan industri pendukung lokal akan jadi prioritas jangka menengah.