BALI — Riset terbaru Cox Automotive menemukan 69 persen pengemudi Generasi Z di Amerika Serikat mempertimbangkan membeli mobil merek China seperti BYD dan Geely. Faktor keterjangkauan harga menjadi pendorong utama, saat rata-rata harga mobil baru di AS sudah menembus US$50 ribu atau sekitar Rp894,32 juta. Preferensi ini berbeda jauh dari generasi lebih tua yang masih menempatkan keandalan dan keselamatan di atas harga.
Data Cox Automotive yang dikutip Nikkei Asia pada Kamis (24/9) menunjukkan pergeseran preferensi konsumen AS akibat tingginya harga kendaraan. Kelompok usia remaja hingga awal 30-an tahun kini menilai tawaran pabrikan China jauh lebih masuk akal dibanding merek-merek mapan yang harganya terus naik.
Harga Mobil Baru AS Tembus Rp894 Juta
Rata-rata harga mobil baru di pasar AS telah melonjak hingga sekitar US$50 ribu, setara Rp894,32 juta dengan kurs 1 USD=Rp17.886. Angka ini belum termasuk biaya bahan bakar yang juga membebani kantong konsumen muda.
Sebagai pembanding, BYD Dolphin Surf dijual sekitar US$25 ribu atau setara Rp447,15 juta di Eropa. Artinya, harga mobil listrik ringkas asal China itu hanya separuh dari rata-rata harga mobil baru di AS.
Gen Z Kuasai Seperlima Populasi Konsumen
Gen Z mencakup sekitar seperlima populasi konsumen di AS, menjadikan mereka kekuatan pasar yang tidak bisa diabaikan pabrikan. Kelompok ini tumbuh dengan akses informasi harga global, sehingga tahu persis selisih yang harus mereka bayar untuk merek non-China.
Sebaliknya, generasi yang lebih tua tetap setia pada faktor keandalan dan keselamatan. Dua pertimbangan itu masih menjadi alasan utama mereka menolak beralih ke merek China meski harganya lebih murah.
Tarif Impor 100 Persen Jadi Penghalang
Mobil listrik China saat ini masih terhalang tarif impor 100 persen yang diterapkan pemerintah AS. Kebijakan itu membuat harga jual di dealer AS jauh lebih mahal dibanding harga di Eropa atau pasar lain.
Meski demikian, isu keterjangkauan mulai menggeser dinamika politik domestik jelang pemilu sela. Presiden AS Donald Trump sempat mengindikasikan keterbukaannya jika perusahaan China ingin membangun pabrik perakitan di wilayah AS.
Tekanan Harga Merembet ke Sektor Chip
Tuntutan atas harga murah tidak berhenti di industri otomotif. Sektor semikonduktor mengalami hal serupa, dengan tingginya biaya komponen chip memicu kenaikan harga barang elektronik seperti ponsel pintar dan komputer.
Konsumen maupun produsen teknologi kini mendesak hadirnya opsi komponen yang lebih ramah di kantong. Pola ini menunjukkan sensitivitas harga telah menjadi tren lintas sektor, bukan sekadar fenomena di pasar mobil.
Pemerintah AS dalam Posisi Dilematis
Meningkatnya sensitivitas konsumen AS terhadap harga menempatkan pemerintah dalam posisi sulit. Di satu sisi, ada kekhawatiran terkait persaingan tidak sehat dan keamanan nasional yang menjadi alasan tarif tinggi diberlakukan.
Namun di sisi lain, dorongan kuat dari Gen Z yang menginginkan produk berkualitas dengan harga terjangkau menjadi tren pasar yang kian sulit untuk diabaikan. Pemerintah harus menyeimbangkan proteksi industri domestik dengan tuntutan konsumen yang semakin vokal soal harga.