Penancapan Keris Warnai Puncak Peringatan 120 Tahun Puputan Badung di Denpasar

Penulis: Vino Bastian  •  Senin, 21 September 2026 | 05:32:31 WIB
Wali Kota Denpasar bersama penglingsir puri menancapkan keris sebagai penanda berakhirnya rangkaian peringatan 120 tahun Puputan Badung di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar.

DENPASAR — Penancapan keris oleh Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama para penglingsir puri se-Kota Denpasar menjadi penanda berakhirnya rangkaian peringatan 120 tahun Puputan Badung. Prosesi itu digelar di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar, Minggu (20/9/2026) malam. Puncak peringatan tahun ini dikemas lewat apel dan penampilan Karya Mahabandana Puputan Badung bertajuk "Mati Tan Pumut Pejah".

Kegiatan berlangsung khidmat dengan mengangkat kembali nilai sejarah dan semangat perjuangan Raja serta rakyat Badung dalam menghadapi kolonialisme Belanda pada 1906. Rangkaian acara diawali pembacaan sejarah singkat Puputan Badung yang terjadi pada 20 September 1906. Peristiwa itu menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan rakyat Bali, khususnya Kerajaan Badung, dalam mempertahankan wilayah dan kehormatan dari tekanan kolonial Belanda.

Mandat Penglingsir Puri Denpasar

Mandat dibacakan oleh Penglingsir Puri Denpasar, Ida Cokorda Ngurah Jambe Pemecutan, Dr AA Ngurah Agung Wira Bima Wikrama. Dia menegaskan, peringatan Puputan Badung tidak semata-mata menjadi agenda mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga momentum untuk memahami nilai perjuangan dan pengorbanan Raja serta rakyat Badung.

"Hari ini kita hadir untuk memperingati sejarah perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa, khususnya Raja dan Rakyat Badung Tahun 1906. Bukan hanya sebagai pertempuran, tetapi sebagai simbol tekad dan semangat juang masyarakat Bali dalam memperjuangkan keadilan melawan Belanda," ungkapnya.

Mengapa 20 September Penting bagi Denpasar

Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyatakan peringatan Puputan Badung setiap 20 September menjadi momentum untuk mengenang peristiwa heroik rakyat Bali, khususnya Kerajaan Badung, yang berjuang hingga titik darah penghabisan atau puputan dalam menghadapi penjajahan Belanda. Peristiwa 20 September 1906 menunjukkan semangat perjuangan rakyat Bali yang dipimpin Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, dalam mempertahankan tanah kelahiran.

"Momentum ini diperingati sebagai tanda semangat sebagai bangsa besar yang tidak pernah melupakan sejarah perjuangan para pendahulunya. Pengorbanan nyawa dan perjuangan para pahlawan yang gugur harus senantiasa kita kenang," ujar Jaya Negara.

Warisan Nilai Kepahlawanan untuk Generasi Muda

Menurut Jaya Negara, nilai-nilai kepahlawanan dan semangat perjuangan tersebut penting diwariskan kepada generasi muda sebagai bahan refleksi dan inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.

"Nilai-nilai kepahlawanan para pejuang kita harus kita wariskan kepada generasi muda penerus bangsa, sebagai cermin refleksi diri yang patut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat dijadikan inspirasi generasi muda untuk membangun Denpasar yang lebih maju lagi," katanya.

Peringatan 120 tahun Puputan Badung diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial. Rangkaian acara ini juga diharapkan memperkuat kesadaran masyarakat terhadap sejarah perjuangan serta menumbuhkan semangat menjaga persatuan, nilai kebangsaan, dan jati diri budaya Bali di tengah perkembangan zaman.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: balipuspanews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top