BALI — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.441 pada pekan lalu, berada di bawah MA5 dan MA20. Posisi ini memicu dead cross MA5 terhadap MA20 yang mengindikasikan pelemahan jangka pendek. Tekanan jual yang masih dominan membuat IHSG diperkirakan bergerak konsolidasi pada pekan ini.
Brigita menambahkan, indikator momentum sejalan dengan MACD yang telah membentuk dead cross sebelumnya terhadap signal line. Histogram negatif yang kian melebar memperkuat sinyal pelemahan.
"Indikator momentum sejalan dengan MACD yang telah membentuk dead cross sebelumnya terhadap signal line & histogram negatif yang kian melebar," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (21/9/2026).
Dari sisi tekanan jual, Brigita menyebut masih cukup besar diikuti volume yang cukup besar. Meski demikian, IHSG masih bertahan di atas MA60.
Posisi di atas MA60 membuat tren menengah belum berbalik. Koreksi saat ini masih dapat dibaca sebagai pullback, bukan awal tren turun jangka panjang.
Bagi investor, level MA60 menjadi kunci yang perlu dicermati. Selama IHSG bertahan di atas level tersebut, peluang rebound masih terbuka. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan MA60 tertembus, risiko pelemahan lebih dalam perlu diantisipasi.
Brigita juga menyoroti saham-saham yang perlu dicermati pada pekan ini, termasuk ANTM, MTEL, dan IMPC. Ketiganya menjadi fokus analisa teknikal di tengah kondisi pasar yang sedang konsolidasi.
Investor disarankan mencermati level support dan resistance masing-masing saham sebelum mengambil keputusan. Volume perdagangan yang tinggi menandakan masih ada aktivitas jual-beli yang signifikan di pasar.
Konsolidasi IHSG pada pekan ini akan sangat bergantung pada sentimen global dan arus dana asing. Jika tekanan jual mereda, IHSG berpeluang menguji kembali level resistance terdekat.