BALI — Bursa Efek Indonesia mencatat sembilan perusahaan masih berada dalam pipeline pencatatan saham hingga 23 Oktober 2026. Tiga di antaranya masuk kategori aset besar di atas Rp 250 miliar, sementara satu perusahaan berskala kecil di bawah Rp 50 miliar.
Laporan BEI menyebutkan lima perusahaan lain berada di kategori aset menengah, yakni Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Pengelompokan mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017 tentang pendaftaran saham.
Dari sisi sektor, empat perusahaan berasal dari healthcare, dua basic materials, dua energi, dan satu finansial. Komposisi ini menempatkan kesehatan sebagai kelompok terbesar dalam antrean.
"Hingga saat ini, terdapat 9 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," tulis laporan BEI yang dikutip Sabtu (24/10/2026).
Sepanjang periode hingga 23 Oktober 2026, BEI telah mencatat tujuh perusahaan yang menyelesaikan IPO. Aksi korporasi itu menghimpun dana sebesar Rp 2,16 triliun.
"Sampai dengan 23 October 2026 telah tercatat 7 perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp 2.16 triliun," terang BEI.
Antrean sembilan perusahaan menandakan pasokan saham baru di BEI masih berlanjut hingga akhir tahun. Bagi investor, pilihan instrumen ekuitas berpotensi bertambah, terutama di sektor kesehatan yang mendominasi pipeline.
Namun, besaran dana yang dihimpun dari tujuh IPO yang sudah berjalan baru Rp 2,16 triliun. Angka itu memberi gambaran skala penawaran yang masih moderat dibandingkan jumlah emiten dalam antrean.
BEI belum merinci jadwal maupun estimasi nilai penawaran masing-masing perusahaan dalam pipeline. Pelaku pasar biasanya mencermati profil aset dan sektor calon emiten sebelum menentukan sikap pada masa penawaran.