BULELENG — Limbah industri talas di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, kini tidak lagi menjadi beban lingkungan. Melalui sentuhan teknologi tepat guna, sisa produksi keripik dan kue tersebut disulap menjadi pakan ternak fungsional dengan nilai gizi yang jauh lebih tinggi bagi peternak lokal di Banjar Dinas Bhuana Sari.
Transformasi limbah ini didasarkan pada hasil uji laboratorium yang menunjukkan perubahan signifikan pada karakteristik bahan. Sebelum diolah, limbah talas memiliki kadar serat kasar yang tinggi dan zat anti-nutrisi yang merugikan ternak.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Ir. Ni Ketut Mardewi, MP, menjelaskan bahwa intervensi teknologi berhasil mengubah profil nutrisi limbah tersebut secara drastis.
“Melalui fermentasi, kita tidak hanya menghilangkan rasa gatal, tetapi juga meningkatkan nilai gizi secara signifikan. Berdasarkan uji laboratorium, kadar serat kasar berhasil kita turunkan dari 21,56 persen menjadi 16,29 persen, sementara protein kasarnya melonjak dari 7,28 persen menjadi 11,47 persen,” ungkap Mardewi saat ditemui pada Selasa (5/5/2026).
Persoalan utama pemanfaatan limbah talas selama ini adalah kandungan kalsium oksalat. Zat anti-nutrisi ini menyebabkan rasa gatal jika dikonsumsi langsung oleh ternak dalam jumlah besar. Pengolahan menjadi pelet dan pakan fermentasi menjadi solusi kunci untuk menetralisir kandungan tersebut.
Dalam implementasi di Kelompok Ternak Kambing Sami Mupu, seluruh bagian tanaman talas mulai dari daun, batang, hingga kulit umbi diproses tanpa sisa. Konsep zero waste ini memastikan siklus produksi berjalan tertutup dan berkelanjutan.
“Konsep ini memastikan seluruh bagian tanaman masuk ke dalam siklus produksi. Daun, batang, hingga kulit umbi diproses menjadi pakan yang praktis, mudah disimpan dalam bentuk pelet, dan memiliki nutrisi merata,” tambah Mardewi.
Desa Wanagiri memiliki potensi produksi talas yang sangat besar, mencapai 728,49 ton per tahun. Seiring meningkatnya tren UMKM keripik talas, volume limbah yang dihasilkan pun terus membengkak. Jika tidak dikelola, tumpukan kulit dan batang talas berisiko mencemari ekosistem desa wisata tersebut.
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026. Program ini diharapkan menjadi purwarupa bagi daerah lain di Bali dalam menangani limbah pertanian.
Selain menekan biaya pakan yang sering dikeluhkan peternak, inovasi ini mendukung target global pembangunan berkelanjutan (SDGs). Pengolahan limbah menjadi pakan berkualitas menciptakan ekosistem pertanian ramah lingkungan yang berdampak langsung pada ekonomi sirkular di tingkat desa.