Panthalassa Siapkan Pusat Data AI Terapung di Samudra Pasifik pada 2026

Penulis: Yanto Prasetya  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 10:20:06 WIB
Panthalassa siapkan pusat data AI terapung di Samudra Pasifik dengan energi gelombang laut.

Startup Panthalassa berencana menguji coba pusat data AI terapung di Samudra Pasifik pada 2026 guna mengatasi krisis lahan dan energi di daratan. Proyek ambisius ini telah mengamankan pendanaan total 200 juta dolar AS dari investor Silicon Valley termasuk pendiri Palantir, Peter Thiel.

Kebutuhan daya listrik yang masif untuk menjalankan kecerdasan buatan (AI) mulai membentur tembok keterbatasan infrastruktur di darat. Sebagai solusi radikal, Panthalassa kini tengah mempercepat pengembangan unit komputasi lepas pantai yang sepenuhnya ditenagai oleh energi gelombang laut. Langkah ini diambil saat raksasa teknologi dunia mulai kesulitan mencari lokasi baru untuk membangun pusat data akibat regulasi lingkungan dan keterbatasan pasokan listrik dari jaringan konvensional.

Perusahaan baru saja mengantongi suntikan modal terbaru sebesar 140 juta dolar AS (sekitar Rp 2,24 triliun). Dana segar tersebut dialokasikan untuk merampungkan fasilitas manufaktur percontohan di dekat Portland, Oregon. Fasilitas ini akan memproduksi unit-unit komputasi berbentuk "node" yang dirancang untuk mengapung dan beroperasi secara mandiri di perairan dalam.

Solusi Krisis Energi Lewat Kekuatan Gelombang

Berbeda dengan pusat data konvensional yang harus menarik kabel listrik ribuan kilometer, node milik Panthalassa menghasilkan listrik sendiri. Setiap unit dilengkapi teknologi yang mampu mengonversi gerakan gelombang laut menjadi energi listrik untuk menghidupkan chip AI di dalamnya secara langsung. Pendekatan ini menghilangkan ketergantungan pada jaringan listrik daratan yang saat ini sudah sangat terbebani oleh kebutuhan industri dan domestik.

Model operasional Panthalassa juga mengubah paradigma distribusi data di industri teknologi. Selama ini, tantangan utama pusat data adalah transmisi energi dari sumber terbarukan ke lokasi server. Panthalassa membalikkan masalah tersebut dengan membawa server langsung ke sumber energi terbarukan di tengah laut.

Benjamin Lee, seorang arsitek komputer dan insinyur dari University of Pennsylvania, menjelaskan transformasi teknis ini kepada Ars Technica:

"Ide Panthalassa mengubah masalah transmisi energi menjadi masalah transmisi data. Melakukan komputasi AI di lautan memerlukan transfer model ke node berbasis laut, yang kemudian merespons perintah dan kueri dari sana."

Transmisi Data Melalui Jaringan Satelit

Karena letaknya yang berada di tengah samudra dan jauh dari infrastruktur kabel bawah laut tradisional, node Panthalassa mengandalkan konektivitas satelit. Proses kerja sistem ini mencakup beberapa tahap teknis utama:

  • Transfer Model: Pengembang AI mengirimkan model bahasa besar (LLM) mereka ke node di laut melalui tautan satelit.
  • Pemrosesan Mandiri: Chip AI di dalam node memproses permintaan (inference) menggunakan daya dari energi gelombang.
  • Output Token: Hasil komputasi berupa token data dikirimkan kembali ke pelanggan di seluruh dunia melalui jaringan satelit yang sama.

Strategi ini dinilai sangat relevan bagi beban kerja AI tipe inference, di mana kecepatan pemrosesan data lebih krusial daripada latensi fisik kabel. Dengan total pendanaan yang kini mencapai 200 juta dolar AS (sekitar Rp 3,2 triliun), Panthalassa menargetkan pengerahan perdana unit fungsional mereka di Samudra Pasifik dalam dua tahun ke depan.

Investasi besar dari tokoh seperti Peter Thiel menunjukkan bahwa industri mulai melihat laut bukan sekadar tempat pendinginan server, melainkan sebagai ladang energi utama bagi masa depan AI. Jika pilot proyek di Samudra Pasifik ini berhasil, peta jalan pembangunan infrastruktur digital dunia diprediksi akan bergeser dari kawasan industri di daratan menuju wilayah perairan internasional.

Reporter: Yanto Prasetya
Back to top