DENPASAR — Komposisi penduduk usia kerja di Bali mengalami pergeseran signifikan pada awal tahun ini. Berdasarkan pendataan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, jumlah penduduk usia kerja mencapai 3,56 juta orang, namun hanya 2,66 juta orang yang masuk dalam kategori angkatan kerja.
Sisanya, sebanyak 900 ribu orang, dikategorikan sebagai Bukan Angkatan Kerja. Kelompok ini mengalami lonjakan sebesar 105,10 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Fenomena ini menjadi penyebab utama menurunnya angka partisipasi kerja di Pulau Dewata.
Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, mengungkapkan bahwa pergeseran ini terjadi karena penduduk usia produktif memilih kegiatan non-ekonomi. Mayoritas dari mereka memutuskan untuk fokus pada urusan domestik atau kembali ke bangku pendidikan.
“Angkatan Kerjanya sebanyak 2,66 juta orang, jumlah Angkatan Kerja ini turun 77,85 ribu orang karena sebagian diantaranya menjadi Bukan Angkatan Kerja,” ujar Agus Gede di Denpasar, Selasa.
Data BPS merinci alasan di balik 900 ribu penduduk yang tidak bekerja tersebut:
Meski jumlah angkatan kerja menurun, tantangan pada sektor ketenagakerjaan justru meningkat. Dari 2,66 juta angkatan kerja yang tersedia, tercatat 2,62 juta orang sudah bekerja, sementara 42,32 ribu orang lainnya masih berstatus pengangguran.
BPS menyoroti adanya peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), terutama pada kelompok laki-laki. Penurunan partisipasi angkatan kerja memang terjadi pada kedua jenis kelamin, namun angka pengangguran yang belum terserap hanya meningkat pada laki-laki Bali.
“Jadi bisa diartikan 1-2 dari 100 orang Angkatan Kerja di Bali adalah pengangguran atau belum bisa terserap di lapangan pekerjaan,” ucap Agus Gede menambahkan.
Terkait penyebab pastinya, BPS menyebutkan adanya faktor pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa sektor. Namun, pihak otoritas statistik belum bisa memastikan apakah kenaikan pengangguran ini murni akibat minimnya lapangan kerja yang tersedia atau faktor lainnya.
Walaupun serapan tenaga kerja secara umum menunjukkan tren menurun, BPS Bali tetap melihat adanya potensi besar pada sejumlah sektor basis. Bidang pertanian, perdagangan, dan industri masih menjadi tulang punggung yang mampu menampung banyak pekerja di Bali saat ini.
Pergeseran penduduk dari status bekerja menjadi pengurus rumah tangga atau pelajar ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memetakan kembali kualitas sumber daya manusia. Hal ini krusial mengingat angka pengangguran justru naik di saat jumlah orang yang mencari kerja sebenarnya berkurang.