BALI — Survei terbaru dari Reviews.org dan Allstate mengonfirmasi apa yang sudah dirasakan banyak orang: masa pakai smartphone semakin panjang. Jika dulu pengguna rela mengeluarkan uang setiap tahun untuk model terbaru, kini mereka lebih memilih bertahan dengan perangkat yang ada. Data ini sekaligus menjadi sinyal bagi produsen bahwa strategi rilis tahunan mungkin perlu diubah.
Salah satu alasan utama orang menunda upgrade adalah perangkat mereka masih bekerja dengan baik. Seorang pengguna iPhone 13 yang membeli ponselnya pada 2022 mengaku tidak berniat menggantinya dalam waktu dekat. Kapasitas baterai maksimalnya memang sudah turun ke 80%, tapi ponsel itu tidak pernah mengalami crash parah atau mati mendadak seperti model sebelumnya.
“Saya dulu upgrade setelah dua tahun karena HP mulai sering restart dan baterai cepat habis. Sekarang, hal itu belum terjadi sama sekali,” ujarnya. Dengan harga flagship yang terus meroket—iPhone 17, Google Pixel 10, dan Samsung Galaxy S26 dibanderol mulai Rp 13,2 juta hingga Rp 14,9 juta—bertahan dengan ponsel yang masih fungsional menjadi pilihan paling masuk akal.
Inovasi antar-generasi smartphone belakangan ini dinilai kurang signifikan. Peningkatan chip dan kualitas kamera memang ada, tapi tidak ada gebrakan sebesar kemunculan kamera depan di iPhone 4, asisten Siri di iPhone 4S, atau desain revolusioner iPhone X. Konsumen butuh alasan kuat untuk merogoh kocek, dan spesifikasi biasa saja tidak cukup.
Fitur kecerdasan buatan (AI) yang digadang-gadang sebagai masa depan ponsel pun ternyata kurang diminati. Survei CNET 2025 mencatat hanya 11% pengguna di AS yang upgrade HP karena fitur AI, turun dari 18% tahun sebelumnya. Sekitar 29% responden bahkan mengaku tidak tertarik atau tidak merasa terbantu dengan AI di ponsel mereka.
“Saya melihat fitur AI seperti pembuat emoji kustom atau Siri yang lebih pintar justru sebagai pengganggu, bukan daya tarik,” tambah pengguna yang sama. Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, keamanan data, dan sosial dari teknologi AI membuat sebagian orang memilih menunggu hingga hype-nya mereda.
Kombinasi harga yang semakin mahal dan fitur yang kurang inovatif membuat konsumen berpikir dua kali. Ponsel lipat dan AI, dua tren besar beberapa tahun terakhir, belum berhasil membangkitkan antusiasme massal. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, membeli HP baru bukan lagi prioritas.
Produsen seperti Apple mendukung perangkat lawas dengan pembaruan sistem hingga sekitar tujuh tahun. Artinya, pengguna iPhone 13 yang dirilis 2021 masih akan mendapat update iOS hingga 2028. Planned obsolescence—strategi membuat produk cepat usang—kini semakin sulit diterapkan karena perangkat keras memang lebih tahan lama.
Meski data survei berasal dari Amerika Serikat, pola serupa kemungkinan besar juga terjadi di Indonesia. Daya beli masyarakat yang terbatas dan harga HP flagship yang terus naik membuat siklus penggantian ponsel semakin panjang. Fitur AI yang belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan sehari-hari pengguna Indonesia juga memperkuat tren ini.
Bagi yang saat ini masih memakai iPhone 13, Galaxy S22, atau Pixel 6, mungkin belum saatnya pindah. Selama ponsel masih lancar dipakai, baterai masih cukup, dan sistem operasi masih didukung, menunggu satu atau dua generasi lagi bisa jadi keputusan yang lebih bijak.