DENPASAR — Diskusi yang digelar AJI Denpasar baru-baru ini menghadirkan sejumlah pemantik dari kalangan akademisi dan jurnalis senior. Mereka membahas fenomena menurunnya ruang bagi kritik publik, yang dinilai berdampak langsung pada kualitas demokrasi di tingkat lokal.
Para peserta sepakat bahwa kebebasan pers di Bali menghadapi tekanan yang tidak selalu kasatmata. Bukan hanya dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan juga melalui mekanisme hukum dan tekanan ekonomi yang membuat jurnalis ragu untuk menulis secara kritis.
Seorang akademisi yang hadir menyebut bahwa iklim kebebasan berpendapat di daerah mulai terhambat oleh berbagai regulasi yang multitafsir. Hal ini, menurutnya, membuat ruang kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah semakin sempit.
Para jurnalis yang hadir dalam diskusi berbagi pengalaman tentang kesulitan mendapatkan akses informasi dari pejabat publik. Beberapa di antaranya mengaku pernah mendapat tekanan saat menulis isu-isu sensitif seperti korupsi atau pelanggaran tata ruang di Bali.
“Tidak ada ancaman terbuka, tapi ada pesan-pesan yang membuat kita harus berpikir dua kali sebelum menaikkan berita,” ujar seorang jurnalis yang enggan disebutkan namanya dalam diskusi tersebut.
Menyempitnya ruang kritik tidak hanya berdampak pada jurnalis, tetapi juga pada hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berimbang. Tanpa pers yang bebas dan kritis, publik sulit mengawasi jalannya pemerintahan dan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
AJI Denpasar berharap diskusi semacam ini bisa menjadi momentum untuk mendorong penguatan kemerdekaan pers di Bali. Mereka juga mengajak semua pihak, termasuk pemerintah daerah, untuk menjaga iklim demokrasi yang sehat.
Ke depan, AJI Denpasar berencana menggelar serangkaian diskusi serupa di kampus-kampus dan komunitas jurnalis di seluruh Bali. Tujuannya, memperluas kesadaran akan pentingnya kebebasan pers sebagai pilar demokrasi.
Diskusi ini menjadi pengingat bahwa kebebasan pers bukanlah sekadar hak jurnalis, melainkan hak seluruh warga negara untuk tahu dan dikritik.