KARANGASEM — Kambing Gembrong bukan sekadar hewan ternak biasa di Bali. Di balik bulu panjangnya yang khas, tersimpan sejarah panjang sebagai bagian dari ritual dan seni tradisional Pulau Dewata. Namun, keberadaannya kini berada di ujung tanduk.
Kambing Gembrong memiliki peran unik dalam kebudayaan Bali. Bulunya yang lebat dan panjang kerap menjadi bahan baku utama pembuatan kostum Barong, salah satu ikon kesenian tradisional yang sakral. Tak heran, hewan ini dulu dipelihara di sekitar pura dan rumah adat, bukan sekadar untuk diternakkan.
Beberapa faktor disebut-sebut menjadi penyebab kelangkaan Kambing Gembrong. Persilangan dengan jenis kambing lain yang lebih produktif secara ekonomi menjadi ancaman utama. Selain itu, perubahan fungsi lahan di Karangasem dan minimnya minat generasi muda untuk beternak hewan endemik ini memperparah kondisi.
Akibatnya, hewan yang dulunya mudah dijumpai di pedesaan timur Bali ini kini sulit ditemukan. Populasinya terus menurun dari tahun ke tahun, membuatnya masuk dalam daftar plasma nutfah yang harus segera diselamatkan.
Pemerintah daerah bersama sejumlah akademisi dan pegiat lingkungan mulai bergerak. Upaya pelestarian dilakukan dengan cara mengidentifikasi sisa populasi Kambing Gembrong di Karangasem dan sekitarnya. Program penangkaran juga mulai dirintis untuk menjaga kemurnian genetik hewan ini.
Langkah ini dianggap krusial. Sebab, jika dibiarkan, bukan hanya satu spesies ternak yang hilang, tetapi juga rantai budaya yang telah mengakar selama berabad-abad di Bali.