DENPASAR — Bagi warga Gang Taman Beji, bercak cokelat di dinding bukan lagi pemandangan asing. Itu adalah sisa air bah yang merendam kawasan tersebut pada 2025 lalu. Seorang ibu yang tengah menyapu area Pura Taman Beji menunjuk ke atap bale setempat. "Segitu tingginya. Sampai nutup di sana," katanya, menggambarkan ketinggian air yang mencapai atap bangunan suci tersebut.
Ia menambahkan, banjir kali itu jauh lebih besar dari biasanya. "Kalau pun tinggi biasanya nggak sampai kena jalan, tapi waktu itu kaget setinggi itu banjirnya," ujarnya.
Saat ditanya soal respons pemerintah, ibu itu mengaku Presiden Prabowo Subianto sempat datang ke lokasi. "Saya cuma dapat salaman aja, selain itu nggak dapat apa," katanya sambil tertawa kecil. Ia mengakui bantuan sembako memang sempat diberikan, namun kerusakan yang ditinggalkan banjir jauh lebih besar. "Ya meskipun sembako dapat, tapi kan rusak ini banyak," imbuhnya.
Pengakuan ini mencerminkan situasi yang dihadapi warga: bantuan datang, tetapi pemulihan infrastruktur dan tempat tinggal berjalan lambat. Alih-alih menunggu, warga memilih bertahan dan beradaptasi.
Suasana Gang Taman Beji saat ini dihiasi oleh warung ayam goreng yang beroperasi di dalam gedung parkiran terbengkalai. Di sampingnya, deretan kedai kopi gelap dan lembap dipenuhi anak muda yang duduk santai, beberapa di antaranya bekerja menggunakan laptop. Seorang pengunjung bahkan terlihat mengerjakan tugas dengan MacBook-nya di tengah suasana yang kurang rapi dan pencahayaan minim.
Bagi pengunjung luar, tempat itu mungkin tampak kumuh. Namun bagi warga setempat, tempat itu adalah ruang hidup yang berfungsi. "Aku sebagai outsider merasa kedai kopi, termasuk warung ayam goreng, di sana memiliki sanitasi yang kurang: gelap, terlihat lembab, tertutup, dan kurang rapi," tulis seorang pengunjung dalam catatannya. Meski demikian, aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Fenomena ini mengingatkan pada konsep "living in ruins" yang diangkat antropolog Anna Lowenhaupt Tsing dalam bukunya Mushroom at the End of the World. Bagi warga Gang Taman Beji, apa yang dianggap orang luar sebagai kerusakan adalah kondisi normal. Bercak banjir di tembok bukan lagi noda yang harus dihilangkan, melainkan bagian dari keseharian yang tidak bisa dihindari.
Mereka sadar bahwa pemerintah tidak akan segera memperbaiki semuanya. Mereka sadar bahwa bantuan sembako hanya solusi jangka pendek. Dan mereka sadar bahwa banjir bisa datang lagi kapan saja. "Jadi satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah beraktivitas seperti biasa," tulis pengamat yang berkunjung ke lokasi. Ibu yang menyapu pura, pemilik warung ayam goreng, dan barista di kedai kopi—semua menjalani rutinitas tanpa kepastian bahwa bencana tidak akan terulang.
Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah ini optimisme atau sekadar kegigihan tanpa harapan? Aktivitas di Gang Taman Beji menunjukkan bahwa warga telah menerima risiko sebagai bagian dari kehidupan. Mereka membangun kembali dari sisa-sisa kehancuran, mengambil nilai dari apa yang tersisa. Warung yang beroperasi di lahan terbengkalai dan kedai kopi yang berfungsi di tempat lembap adalah bukti bahwa kehidupan terus berjalan—meski di atas fondasi yang rapuh.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pemkot Denpasar mengenai rencana penanganan banjir jangka panjang di kawasan tersebut. Warga pun terus menunggu, sambil menyapu lantai pura dan menyeduh kopi untuk pelanggan yang datang.