DENPASAR — Kinerja penjualan eceran di Bali menunjukkan tren positif signifikan di tengah momentum libur panjang. Berdasarkan data Bank Indonesia, IPR Bali tetap bertahan di zona ekspansif, mencatatkan peningkatan 0,8 persen secara bulanan (mtm).
Kelompok barang yang paling berkontribusi terhadap pertumbuhan ini adalah suku cadang dan aksesori yang melesat hingga 5,0 persen. Disusul oleh bahan bakar kendaraan bermotor yang naik 2,2 persen, serta barang budaya dan rekreasi yang tumbuh 1,8 persen. Pola ini mencerminkan peningkatan mobilitas masyarakat yang signifikan selama rangkaian libur keagamaan dan hari jadi daerah.
Optimisme pasar diprakirakan berlanjut hingga Mei 2026. IPR bulan depan diproyeksikan mencapai 126,0 atau tumbuh 0,6 persen (mtm). Pertumbuhan ini akan didorong oleh permintaan pada kategori sandang, makanan, minuman, dan tembakau. Momentum libur panjang seperti Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak menjadi faktor utama yang menjaga kuatnya konsumsi rumah tangga di Pulau Dewata.
Meski aktivitas ekonomi menggeliat, stabilitas harga tetap terkendali. Pada Mei 2026, inflasi Bali tercatat sebesar 2,99 persen secara tahunan (yoy), masih dalam sasaran nasional 2,5±1 persen. Namun, Bank Indonesia mencatat adanya ekspektasi kenaikan harga pada Juli dan Oktober 2026 yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang mencapai 200,0. Sebagai langkah antisipasi, BI menetapkan BI-Rate di level 5,50 persen, suku bunga Deposit Facility 4,50 persen, dan Lending Facility 6,25 persen.
Keyakinan pelaku usaha terhadap prospek bisnis di Bali juga tetap tinggi. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Juli 2026 naik menjadi 172,0, dan IEP Oktober 2026 mencapai 190,0 — jauh di atas zona 100 yang menandakan optimisme kuat. Sektor perdagangan juga ditopang oleh pertumbuhan kredit yang sehat. Hingga April 2026, kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan tumbuh sebesar 1,99 persen (yoy).
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali berkomitmen memperkuat strategi 4K untuk menjaga daya beli masyarakat. Empat pilar itu meliputi Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu memastikan inflasi tetap terkendali dan ekonomi Bali terus tumbuh secara berkelanjutan.