70 Seniman Sanggar Dharmawangsa Wakili Badung di PKB 2026, Sajikan Empat Garapan Palegongan Padukan Tradisi dan Spiritualitas

Penulis: Yanto Prasetya  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 00:16:01 WIB
seniman Sanggar Dharmawangsa tampil di PKB 2026 dengan empat garapan tari dan tabuh Palegongan.

DENPASAR — Empat karya yang dipentaskan terdiri dari Tari Palegongan Kreasi "Nyrig?a", Tabuh Palegongan Klasik "Solo", Tari Palegongan Klasik "Legod Bawa", serta Tabuh Palegongan Kreasi "Rong Telu". Seluruh pertunjukan dirancang selaras dengan tema besar PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, yang menitikberatkan pada penyucian jiwa melalui seni dan budaya.

Penata pertunjukan, Ida Bagus Yodhie Harischandra atau yang akrab disapa Gusde, mengatakan proses persiapan melibatkan puluhan penari, penabuh gamelan, tim artistik, hingga pendukung pertunjukan. Mereka menjalani latihan intensif demi menyajikan pertunjukan berkualitas di panggung bergengsi tersebut.

"Nyrig?a" Jadi Tari Utama, Refleksi Perjalanan Batin Manusia

Gusde menjelaskan, Tari Palegongan Kreasi "Nyrig?a" menjadi karya utama yang diusung. Tarian ini mengangkat perjalanan batin manusia dalam menemukan kesadaran diri melalui gerak tari Legong yang menggambarkan proses pencarian jati diri hingga menemukan harmoni batin.

"Nyrig?a kami hadirkan sebagai refleksi perjalanan spiritual. Legong bukan hanya dipandang sebagai bentuk tari, tetapi menjadi media untuk memahami diri sendiri dan menemukan harmoni jiwa," ujar Gusde dalam keterangannya, Minggu.

Tabuh Klasik "Solo": Perpaduan Gamelan Bali dan Nuansa Jawa

Selain karya kreasi, Sanggar Seni Dharmawangsa juga membawakan Tabuh Palegongan Klasik Solo. Komposisi ini merupakan ciptaan maestro gamelan Bali, I Wayan Lotring, yang lahir dari pengalamannya saat tampil di Keraton Solo pada 1926. Tabuh tersebut memadukan nuansa musik Jawa dengan karakter khas gamelan Palegongan Bali.

Kisah Dewa Brahma dan Wisnu dalam "Legod Bawa"

Pementasan juga menghadirkan Tari Palegongan Klasik Legod Bawa. Tarian ini mengangkat kisah dalam ajaran Hindu mengenai perdebatan kesaktian antara Dewa Brahma dan Dewa Wisnu yang kemudian diuji oleh Dewa Siwa melalui lingga suci. Kisah tersebut mengandung pesan tentang pentingnya kerendahan hati dan kebijaksanaan.

"Rong Telu" Tutup Pementasan dengan Tema Kesadaran Jiwa

Sebagai penutup, Tabuh Palegongan Kreasi Rong Telu mengusung tema Ananta Atma Kertih. Tema ini memaknai perjalanan jiwa menuju tingkat kesadaran yang lebih tinggi melalui eksplorasi bunyi gamelan.

Gusde berharap penampilan Duta Kabupaten Badung mampu menunjukkan bahwa seni Palegongan terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang diwariskan para leluhur. Ia juga berharap pementasan ini dapat memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni budaya Bali.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: baliprawara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top