Gubernur Bali Wayan Koster Tegaskan Petani Harus Jadi Pelaku Utama Pariwisata, Bukan Sekadar Pemandangan Sawah

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Jumat, 03 Juli 2026 | 20:20:31 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster menekankan peran petani sebagai pelaku utama dalam pengembangan pariwisata berbasis pertanian.

DENPASAR — Gubernur Bali Wayan Koster menolak model pembangunan yang menempatkan sektor pertanian sekadar sebagai latar belakang foto wisatawan. Menurutnya, kawasan pertanian yang indah kerap dieksploitasi oleh fasilitas pariwisata tanpa memberikan imbal balik ekonomi yang adil bagi pemilik lahan.

"Pertanian harus berjalan sejalan dengan pariwisata. Banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian. Kalau hanya dilindungi tanpa peningkatan pendapatan petani, itu tidak adil, apalagi kebutuhan hidup terus meningkat," kata Koster di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Kamis (2/7/2026).

Petani sebagai Pelaku Utama, Bukan Pemandu Wisata Dadakan

Koster menilai selama ini petani hanya diposisikan sebagai penjaga bentang alam, sementara pelaku pariwisata menikmati keuntungan lebih besar. Ia mendorong adanya konsep yang menjadikan petani sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat dari pengembangan wisata berbasis pertanian.

"Selain sebagai penyangga ketahanan pangan, kawasan pertanian juga menjadi objek wisata alam. Karena itu harus dikemas dengan baik agar petani memperoleh manfaat," tegasnya.

Pernyataan itu disampaikan Koster saat menerima undangan dari Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta. Sudiarta mengundang Koster menjadi keynote speaker pada Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian yang akan digelar 23 Juli mendatang.

Bali Punya Sistem Pertanian Berbudaya yang Tak Dimiliki Daerah Lain

Menurut Koster, Bali memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain: sistem pertanian yang menyatu dengan budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Ia menyebut, bertani di Bali bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan ritual yang diiringi upacara dan upakara sejak pembibitan hingga panen.

"Di Bali, bertani bukan sekadar menanam. Ada upacara dan upakara yang mengiringi mulai dari pembibitan, pengairan hingga panen. Semua itu menjadi satu kesatuan budaya yang hanya dimiliki Bali," ujarnya.

Koster mengungkapkan, konsep tersebut telah dipresentasikannya di forum internasional di London. Ia juga menyebut Peraturan Daerah tentang Pertanian Organik yang dimiliki Bali menjadi satu-satunya regulasi sejenis di Indonesia.

Bali Tak Perlu Cari Jati Diri, Tinggal Hidupkan Kembali

Di tengah perubahan global yang dinamis, Koster meyakini Bali justru memiliki modal kuat karena telah memiliki jati diri yang kokoh. Ia optimistis Bali bisa menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal.

"Kita di Bali tidak perlu lagi mencari jati diri karena sudah memilikinya sejak dahulu. Tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali," kata Koster.

Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur yang mengundang Koster mengangkat tema integrasi pertanian dan pariwisata berbasis budaya. Sekitar 90 dekan fakultas pertanian dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia Timur diperkirakan hadir, dengan total peserta mencapai 200 orang.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: baliportalnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top