BALI — Pertandingan melawan Meksiko di Azteca bukan sekadar laga knockout biasa. Stadion yang terletak di ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut ini menjadi benteng yang nyaris tak tertembus. Meksiko hanya kalah dua kali dari 89 pertandingan di sana sejak 1966. Atmosfer puluhan ribu pendukung plus udara tipis akan menjadi ujian fisik dan mental bagi The Three Lions.
Tim asuhan Javier Aguirre datang dengan modal sempurna: sapu bersih empat pertandingan, mencetak delapan gol, dan tanpa kebobolan. Sebaliknya, Inggris yang diunggulkan sebagai salah satu favorit juara justru tampil pincang. Hasil imbang kontra Ghana, kemenangan canggung atas Panama, dan penampilan goyah lawan Kroasia jadi catatan merah.
Di babak 32 besar pun, Inggris tertinggal cepat dari RD Kongo sebelum Harry Kane menyelamatkan tim lewat dua golnya. Sejauh ini, Kane menjadi satu-satunya pemain yang bersinar dengan koleksi lima gol. Jude Bellingham, Declan Rice, Bukayo Saka, maupun Anthony Gordon belum mampu mendekati kontribusi sang kapten.
Eks penyerang Burnley dan Queens Park Rangers, Charlie Austin, menilai ketimpangan performa ini jadi pekerjaan rumah utama. "Menuju laga yang satu ini, hal yang terpenting adalah menemukan cara untuk menang dan meraihnya dengan cara apapun," ujarnya dikutip Sky Sports.
"Ada begitu banyak pembicaraan soal Azteca dan ketinggiannya, tapi pada akhirnya, mayoritas pemain perlu menaikkan permainannya dan mendekati level Harry Kane," tegas Austin.
Kondisi geografis Azteca memaksa Inggris bermain lebih efisien. Lini tengah yang digalang Rice dan Bellingham harus bisa mengontrol tempo tanpa kehabisan tenaga di babak kedua. Sementara di lini depan, Saka dan Gordon dituntut untuk lebih tajam agar tekanan tak hanya tertuju pada Kane.
Laga ini akan menjadi penentu apakah Inggris benar-benar layak disebut kandidat juara atau hanya tim satu pemain. Kick-off dijadwalkan pukul 09.00 WIB.