BALI — Setelah periode panjang di pinggir lapangan, para investor global menunjukkan minat baru terhadap pasar India. Perbaikan sentimen ini terlihat dari peningkatan aliran dana asing dalam beberapa pekan terakhir, membalikkan tren outflow yang sempat dominan sepanjang tahun lalu.
Harga minyak mentah dunia yang cenderung stabil dan berada di bawah level puncak tahun lalu menjadi faktor kunci. Bagi India, yang mengimpor sekitar 85% kebutuhan minyaknya, harga minyak yang lebih rendah berarti defisit fiskal dan neraca berjalan lebih terkendali.
Tekanan inflasi yang sempat memuncak juga mulai mereda, memberikan ruang bagi bank sentral India untuk tidak perlu terlalu agresif menaikkan suku bunga. Kondisi ini dinilai lebih kondusif bagi valuasi saham dan prospek laba perusahaan.
Minat baru ke India juga muncul di tengah ketidakpastian ekonomi China yang masih berlanjut. Perlambatan pertumbuhan dan krisis properti di China membuat dana global mencari alternatif, dan India muncul sebagai salah satu destinasi utama dengan fundamental domestik yang kuat.
Data pertumbuhan ekonomi India yang masih di atas 6% serta bonus demografi menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa analis global menyebut valuasi pasar India saat ini mulai masuk akal setelah koreksi beberapa bulan terakhir.
Meski berita ini spesifik tentang India, pergerakan investor global di pasar emerging kerap bergerak bersamaan. Jika dana asing kembali masuk ke India, bukan tidak mungkin Indonesia juga akan kebagian limpahan likuiditas, mengingat profil risiko kedua negara yang mirip.
Namun, investor perlu mencermati bahwa kompetisi memperebutkan modal asing semakin ketat. Kebijakan suku bunga domestik, stabilitas rupiah, serta percepatan reformasi struktural akan menjadi faktor penentu apakah Indonesia bisa ikut menikmati gelombang risk-on ini.
Investasi mengandung risiko. Setiap keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis fundamental masing-masing investor.