BALI — Microsoft resmi mengkonfirmasi PHK massal di divisi Xbox yang berlangsung pekan ini. Sebanyak 1.600 karyawan langsung diberhentikan pada tahap pertama, sementara total 3.200 orang atau 20 persen tenaga kerja akan terdampak dalam setahun ke depan. Keputusan ini menjadi salah satu gelombang PHK terbesar di industri gim konsol.
Untuk membedah situasi ini, Devindra Hardawar selaku host podcast Engadget mengundang Mike Futter, co-host Virtual Economy Podcast sekaligus Director of Ops and Publishing di Causeway Studios. Futter memberikan perspektif soal kemunduran strategi Xbox yang dinilai sudah terlihat sejak debut Xbox One pada 2013.
Futter memprediksi industri pengembangan gim akan terbelah menjadi dua kutub: pengembangan skala AAA (anggaran besar) dan sisanya. Menurutnya, celah untuk pengembang skala menengah semakin sempit. "AAA and everyone else," ujar Futter di podcast tersebut.
Beberapa studio yang terdampak PHK disebut akan dipisahkan (spun off) dari Microsoft. Langkah ini dinilai sebagai bentuk restrukturisasi besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya di era Xbox modern.
Podcast tersebut menelusuri ulang jejak kemunduran Xbox yang disebut sudah dimulai sejak peluncuran Xbox One. Strategi awal konsol tersebut dinilai gagal membaca pasar, dan PHK kali ini menjadi puncak dari serangkaian keputusan bisnis yang kontroversial.
Belum ada pernyataan resmi dari Microsoft soal langkah selanjutnya pasca-PHK. Namun, Futter menilai bahwa tanpa perubahan fundamental, tren ini akan terus berlanjut.
Selain PHK Xbox, podcast Engadget pekan ini juga membahas produk terbaru iRobot pasca-bankrut: sebuah vacuum cleaner yang masih dioperasikan secara manual oleh manusia. Selain itu, Jess Conditt memberikan review Steam Machine yang disebut sangat mahal dan kurang bertenaga, meski kelebihannya cukup senyap saat digunakan.
Podcast ini diproduseri oleh Ben Ellman dengan musik dari Dale North dan Terrence O'Brien.