BULELENG — Perjalanan menuju Desa Tejakula dari kawasan hotel di selatan Bali memakan waktu lebih dari empat jam. Jalan yang berliku-liku di sepanjang jalur utara justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati sisi lain Pulau Dewata yang masih alami dan jauh dari keramaian.
Sebelum berangkat, banyak kisah beredar tentang kesembuhan yang dialami pengunjung setelah berjemur di pantai Tejakula. Proses penyembuhan alami ini disebut tanpa melibatkan obat-obatan, melainkan mengandalkan energi alam dan ketenangan lingkungan sekitar.
"Banyak kisah kesembuhan dari berbagai gangguan kesehatan, sembuh setelah berjemur di pantai Tejakula. Sembuh tanpa obat-obatan, tentu saja merupakan suatu hal yang sangat menyejukkan hati bagi semua orang," demikian pengalaman yang dibagikan oleh seorang pengunjung yang baru saja menempuh perjalanan ke desa tersebut.
Desa ini tak hanya menarik wisatawan lokal dari berbagai daerah, tetapi juga turis asing. Dalam satu kunjungan terbaru, rombongan yang menginap di sebuah vila milik warga lokal terdiri dari pasangan asal Medan, Jakarta, hingga seorang pengunjung yang terbang langsung dari Hong Kong.
Bu Meri, pemilik vila tempat rombongan menginap, menceritakan bahwa suaminya adalah seorang pria asal Australia dan mereka telah menetap di Tejakula selama beberapa tahun. Hal ini menunjukkan bahwa desa ini mulai menjadi tempat tinggal pilihan bagi warga asing yang mencari gaya hidup lebih tenang.
Suasana di Tejakula digambarkan sangat berbeda dengan kawasan wisata mainstream seperti Kuta atau Seminyak. Alam, tradisi, dan kepedulian sesama menyatu dengan indah di desa ini. Pengemudi yang mengantar rombongan turut bercerita tentang berbagai keunikan Bali Utara yang masih memegang teguh nilai-nilai lokal.
Bagi sebagian orang, perjalanan menuju lokasi mungkin terasa menyiksa karena jalan yang berliku. Namun, bagi para pengunjung yang sudah sampai, pemandangan alam dan ketenangan yang ditawarkan menjadi kompensasi yang sepadan.
Desa Tejakula memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata kesehatan dan kebugaran berbasis alam. Dengan semakin banyaknya turis asing yang berminat, dukungan infrastruktur jalan dan promosi dari Pemerintah Kabupaten Buleleng menjadi kunci agar potensi ini tidak hanya dinikmati segelintir orang, tetapi bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi warga setempat.
Konsep natural healing yang ditawarkan juga sejalan dengan tren wisata pascapandemi, di mana banyak pelancong mencari destinasi yang menawarkan ketenangan dan pemulihan, bukan sekadar hiburan malam atau keramaian pantai.