DENPASAR — Antrean panjang setiap hari mewarnai lapak jaje Bali khas Karangasem milik Nur Hayati (45) di Jalan Raya Puputan Denpasar. Pada Sabtu (25/7/2026), pantauan menunjukkan pembeli rela datang sebelum lapak buka pukul 06.30 Wita dan mendapatkan nomor antrean untuk menghindari rebutan.
Perempuan yang akrab disapa Bu Dayat itu menjajakan belasan varian jaje Bali. Menu yang tersedia antara lain pisang rai, laklak, lupis, ketan hitam, klaudan, lempog hitam-coklat-kuning, cenil, jaje labu, hingga orog-orog khas Karangasem.
"Ada 13 macam (jaje Bali). Masing-masing harganya seribuan. Kalau campur bisa Rp 10 ribu. Orog-orog jadi ciri khasnya, tetapi karena bahan bakunya sulit didapat, jadi jarang dijualnya," kata Nur kepada detikBali.
Nur menegaskan kunci kelezatan seluruh jajanannya ada pada gula aren asli dari kampung halamannya di Karangasem. Jika stok gula aren habis, ia lebih memilih menutup dagangan dan pulang ke Karangasem untuk mencari bahan asli.
"Sering saya libur demi memastikan gulanya tetap autentik," ujar Nur. Bahan baku orog-orog berupa ubi kayu juga harus diambil langsung dari Karangasem untuk menjaga cita rasa.
Orog-orog menjadi ciri khas lapak Nur, namun tidak tersedia setiap hari. Pembuatannya rumit dan bahan baku ubi kayu asli Karangasem sulit didapat. Hal ini membuat kudapan tersebut semakin diburu pembeli yang ingin mencicipi sensasi autentik.
Nur mengaku seluruh resep dan cara pengolahan jaje yang dijualnya merupakan warisan dari ibunya. Dahulu, sang ibu berjualan di Banjar Sanglah, Kelurahan Dauh Puri Klod, Denpasar.
"Resep dan citarasa, saya jaga dari warisan ibu saya dahulu," ungkap Nur. Ia bersikukuh tidak mengubah formula tradisional meski permintaan pasar tinggi.