DENPASAR — Tekanan harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah laporan stok minyak Amerika Serikat (AS) anjlok hingga 7,2 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan stok hanya akan berkurang sekitar 2,5 juta barel.
Data yang dirilis oleh Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan bahwa total stok minyak mentah komersial di negara itu kini berada di level 435,1 juta barel. Angka ini menjadi yang terendah dalam beberapa bulan terakhir, menandakan permintaan energi yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penurunan stok sebesar 7,2 juta barel ini dipicu oleh meningkatnya aktivitas kilang minyak di AS yang beroperasi mendekati kapasitas penuh. Selain itu, ekspor minyak mentah AS juga tercatat melonjak, sementara impor justru mengalami penurunan, sehingga pasokan domestik terkuras lebih cepat dari biasanya.
Analis energi menilai bahwa kombinasi antara permintaan bahan bakar yang stabil dan pengurangan produksi oleh negara-negara OPEC+ turut memperparah kondisi ini. Pasar kini mengantisipasi potensi kenaikan harga lebih lanjut jika pasokan global tidak segera pulih.
Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat penurunan stok AS langsung berdampak pada harga acuan minyak global. Harga minyak mentah jenis Brent tercatat naik mendekati level 85 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 81 dolar AS per barel.
Bagi Indonesia, tren kenaikan ini menjadi sinyal waspada bagi pemerintah. Pasalnya, harga minyak mentah yang terus menguat berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, terutama jika tren kenaikan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Pelaku pasar kini mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan sebagai indikator kebijakan suku bunga Federal Reserve. Jika inflasi tetap tinggi, suku bunga bisa bertahan lebih lama, yang berpotensi menekan permintaan energi dan meredam kenaikan harga minyak.
Namun, selama stok minyak AS terus menunjukkan tren penurunan dan pasokan global belum pulih, tekanan terhadap harga minyak diprediksi masih akan berlanjut. Pemerintah Indonesia pun diimbau untuk mulai mengkaji ulang asumsi makro dalam APBN, khususnya terkait harga minyak mentah Indonesia (ICP).