DENPASAR — ESI Bali tidak hanya menyiapkan kompetisi, tetapi juga membangun ekosistem pembinaan atlet esports secara berkelanjutan. Ketua Harian ESI Bali, Anak Agung Gde Harya Putra, menegaskan pembinaan perlu dimulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK agar lahir atlet yang kompetitif.
“Menurut saya untuk memperkuat pembinaan atlet lokal saat ini perlu dilanjutkan pembinaan sejak dini, bila perlu dari SD sampai SMA/SMK,” ujar Gde Putra di Denpasar, Jumat (31/7/2026).
Gde Putra menilai pembinaan tidak bisa berjalan sendiri. Peran komunitas, klub, dan event organizer (EO) dinilai krusial untuk menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan berkesinambungan.
“Kolaborasi dan peranan komunitas, klub, serta EO perlu dimaksimalkan agar ekosistem yang tercipta menjadi lebih efektif dan berdaya saing,” kata dia.
Dengan sinergi tersebut, ruang bagi atlet lokal untuk mengasah kemampuan melalui turnamen rutin menjadi lebih terbuka. Hal ini sejalan dengan arahan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Bali pada 21 Juli lalu.
Komitmen itu telah diwujudkan melalui penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar (Porjar) Esports Provinsi Bali. Ajang ini dirancang khusus untuk menjaring bibit-bibit potensial dari kalangan pelajar sebelum naik ke level lebih tinggi.
“Porjar Esports Provinsi Bali ini kami siapkan sebagai sarana regenerasi atlet, pembinaan, sekaligus pembibitan atlet esports yang nantinya akan kami persiapkan untuk tingkat yang lebih tinggi,” pungkas Gde Putra.
Fokus Porjar yang menyasar pelajar dinilai sejalan dengan visi ESI Bali untuk membangun fondasi pembinaan yang kuat. Gubernur Bali Wayan Koster juga telah meminta pembinaan atlet lokal menjadi prioritas, agar prestasi olahraga Bali dibangun dari potensi daerah masing-masing.