DENPASAR — Perbincangan hangat di kalangan pengguna transportasi umum Bali soal nasib Trans Metro Dewata (TMD) mengemuka. Bagus, Sukma, dan Gede, yang sehari-hari bergantung pada bus umum untuk pulang pergi bekerja, menuturkan bahwa meski TMD hadir di bawah program Teman Bus bentukan Kementerian Perhubungan, kualitas layanannya berbeda jauh dari era sebelumnya.
Ketiganya bukan sekadar penumpang biasa. Mereka adalah pengamat setia yang merasakan langsung evolusi angkutan umum di Pulau Dewata, mulai dari era Trans Sarbagita, bus KSPN, hingga TMD yang beroperasi saat ini.
Perbedaan paling mencolok yang mereka soroti adalah jumlah armada. Sukma menyebut armada TMD jauh berkurang dari pendahulunya.
"Dari 105 (Teman Bus) terus akhirnya gara-gara masalah berhenti itu berkurang sekitar berapa ya? 30 jadi 75 (TMD)," ujar Sukma.
Selain armada, sistem pengaduan juga berubah drastis. Bagus mengenang layanan pengaduan Teman Bus yang dinilai lebih responsif karena memiliki hotline khusus. Kini, penumpang TMD harus bergantung pada aplikasi atau grup WhatsApp.
"Layanan pengaduannya cuma bisa diaplikasi sama grup WhatsApp besar. Dulu Teman Bus lebih apa ya? Banyak gitu pengaduannya. Teman Bus itu punya hotline, jadi kalau ada apa-apa bisa langsung telepon," kata Bagus.
Gede mengonfirmasi keluhan tersebut. Ia mengaku lebih memilih menghubungi langsung petugas pengaduan di grup WhatsApp untuk menghindari keributan. "Nah, kalau aku lebih sering males bikin ribut, langsung tak japri aja. Mending langsung ngomong ke orang yang langsung aja. Tak kasih foto dan juga timestamp-nya—jam sekian," tuturnya.
Intensitas pengawasan juga menjadi catatan penting. Sukma menilai pengawasan saat program Teman Bus masih dikelola langsung oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sangat ketat. Petugas dengan gadget terlihat di setiap titik pemberhentian.
"Apa mungkin perawatannya juga dulu lebih apa karena kan diawasi oleh Kemenhubnya langsung kali ya. Zaman Kemenhub kan kalau pas berhenti di titik tertentu kan ada yang kayak ngawasin itu loh. Ada orang yang bawa gadget gitu," tutur Sukma.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan TMD saat ini. Gede menyebut pengawasan kini jarang dilakukan dan hanya muncul pada waktu-waktu tertentu.
"Kalau dulu itu rutin. Di setiap titik itu ada. Tapi sekarang, kadang pada saat tertentu saja disurvei sama supervisornya. Biasanya akhir tahun kelihatan supervisornya," ujar Gede.
Para pengguna ini juga menyoroti seringnya perubahan rute yang sempat membuat bingung. Bagus menceritakan bagaimana titik awal dan akhir TMD beberapa kali berpindah, dari Ubung ke GOR Ngurah Rai, lalu kembali lagi ke Ubung.
"Awalnya Ubung, terus di GOR Ngurah Rai. Terus balik lagi ke Ubung. Balik lagi ke GOR. Terus habis itu ke Ubung lagi," kata Bagus.
Ia juga mengingat perubahan rute yang sempat melewati Jalan Supratman sebelum akhirnya dialihkan kembali ke rute saat ini. "Kalau enggak salah dulu waktu di GOR Ngurah Rai itu kita enggak lewat Gatsu, tapi lewat Supratman. 2024 tuh masih lewat Supratman, terus akhirnya diubah lagi ke rute yang sekarang ini," sambungnya.
Sukma menjelaskan alasan di balik perubahan rute tersebut, yaitu kemacetan parah di Jalan Supratman, terutama pada jam sekolah. "Kalau Supratman tuh pagi macetnya agak parah. Apalagi di sana banyak sekolahnya juga. Anak-anak sekolah pulang pergi itu pasti ada saja macetnya di jam-jam segitu," jelasnya.
Meski penuh kritik, ketiganya mengaku tetap setia menggunakan TMD. Harapan mereka sederhana: perbaikan sistem pengaduan dan pengawasan agar transportasi umum di Bali kembali nyaman dan menjadi pilihan utama warga, bukan hanya sekadar pilihan terakhir. Sejarah panjang angkutan umum di Bali, dari Trans Sarbagita yang pernah menjangkau hingga Gianyar dengan rencana 17 koridor, seakan menjadi pengingat akan potensi besar yang belum sepenuhnya terealisasi.