KLUNGKUNG — Dua tempat suci bersejarah di Kabupaten Klungkung bakal mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Pemkab Klungkung menggandeng kelompok masyarakat dan pengempon pura untuk mengerjakan perbaikan pelinggih serta penataan kawasan Pura Watu Klotok dan Pura Puseh Sari Swelagiri melalui skema swakelola.
Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp 763 juta, dengan rincian Rp 713 juta untuk penataan Pura Watu Klotok dan Rp 50 juta untuk perbaikan Pelinggih Bale Pelik di Pura Puseh Sari Swelagiri. Seluruh pekerjaan ditargetkan rampung pada Desember 2026.
Bupati Klungkung I Made Satria menegaskan komitmennya untuk mengawal langsung proses pengerjaan kedua proyek tersebut. Ia meminta agar seluruh tahapan pelaksanaan berjalan sesuai jadwal tanpa mengorbankan kualitas hasil pekerjaan.
"Pemkab Klungkung akan terus mengawal proses perbaikan pelinggih ini. Semoga proses pengerjaannya berjalan lancar dengan kualitas yang maksimal dan selesai tepat waktu," ujar Satria di ruang kerjanya.
Menurut Satria, keberadaan pura tidak semata bernilai religius bagi umat Hindu, tetapi juga merupakan kekayaan budaya daerah yang wajib diwariskan kepada generasi mendatang.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Klungkung I Wayan Suteja merinci, penataan Pura Watu Klotok mencakup sembilan jenis pekerjaan. Mulai dari perbaikan Panggungan Segara, Bale Ringgit, Piasan, Pelinggih Ida Betara Lingsir, Gedong Alit, Bale Peselang, Panggungan, Bale Wayang, hingga penataan halaman pura.
Adapun penanganan Pelinggih Bale Pelik di Pura Puseh Sari Swelagiri dilakukan secara khusus. Bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya itu mengalami kerusakan pada bagian pelinggih tempat penyimpanan arca, sehingga perbaikannya harus menjaga nilai sejarah dan keaslian bangunan.
Suteja menjelaskan, pemilihan skema swakelola bukan tanpa alasan. Dengan melibatkan kelompok masyarakat dan pengempon pura secara langsung, partisipasi warga dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya diharapkan semakin kuat.
"Seluruh rangkaian pengerjaan proyek fisik ini dilaksanakan menggunakan skema Swakelola yang melibatkan langsung kelompok masyarakat atau pengempon pura," jelasnya.
Langkah ini dinilai strategis karena pengempon pura umumnya memahami betul tata cara, filosofi, dan material yang tepat untuk bangunan suci. Keterlibatan mereka juga menjadi bentuk pengakuan atas peran komunitas adat dalam pelestarian budaya di Klungkung.