Ribuan Krama Adat Batur Napak Tilas Rute Evakuasi 1926, Teguhkan Ikatan Spiritual dengan Bayung Gede

Penulis: Yanto Prasetya  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30:01 WIB
Ribuan krama adat Desa Batur mengikuti prosesi Napak Tilas 100 Tahun Rarud Batur menyusuri tebing Kaldera I Batur, Bangli, Minggu (16/2).

BANGLI — Jejak panjang persaudaraan antara Desa Adat Batur dan Bayung Gede kembali dihidupkan melalui prosesi Napak Tilas 100 Tahun Rarud Batur. Ribuan warga adat berjalan menyusuri tebing Kaldera I Batur, mengingat kembali perjuangan leluhur menyelamatkan diri dari bencana erupsi Gunung Batur pada 1926.

Prosesi dimulai pukul 08.00 WITA dari Purwa Mandala, titik nol Desa Batur Let. Para peserta membawa panji-panji tempekan atau kelompok adat, lalu menempuh rute menuju Desa Adat Bayung Gede sebelum akhirnya tiba di Pura Ulun Danu Batur sekitar pukul 11.00 WITA.

Dua Tahun Benda Sakral Pura Ulun Danu Batur Dititipkan di Bayung Gede

Kedatangan rombongan di Bayung Gede bukan tanpa makna. Seratus tahun silam, warga Batur yang mengungsi menitipkan benda-benda sakral atau duwe-duwe Pura Ulun Danu Batur di Pura Bale Agung Desa Bayung Gede. Penitipan itu berlangsung selama dua tahun penuh.

Momen bersejarah inilah yang coba direfleksikan kembali oleh ribuan krama adat. Mereka tidak hanya berjalan kaki melewati medan kaldera yang terjal, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang bagaimana dua komunitas pegunungan ini saling menguatkan di tengah keterpurukan.

Akar Persaudaraan yang Diikat Larangan Menikah

Bendesa Bayung Gede, Ketut Sukarta, menjelaskan bahwa kedekatan kedua desa telah membentuk sejumlah tradisi unik yang bertahan hingga kini. Salah satunya adalah pantangan bagi warga kedua desa untuk saling menikah, sebuah simbol bahwa hubungan mereka dianggap sudah terlalu erat layaknya saudara kandung.

Selain itu, Desa Bayung Gede diyakini sebagai lumbung beras Ida Bhatari Batur. Setiap tahun, masyarakatnya mempersembahkan sarin tahun ke Pura Ulun Danu Batur saat Purnama Kasanga. Tradisi lain yang tak kalah penting adalah persinggahan melasti, ketika Ida Bhatara-Bhatari Batur melaksanakan upacara ke laut selatan, mereka akan masandekan atau beristirahat dan diberikan upacara di pura setempat.

Warisan Leluhur yang Harus Diteruskan Generasi Muda

Palinggih Dane Jero Gede Duhuran Batur mengungkapkan rasa harunya atas terselenggaranya napak tilas ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan pencitraan perjuangan leluhur dalam mempertahankan kebudayaan di tengah bencana alam yang melanda.

Hubungan antara Batur dan Bayung Gede, lanjutnya, tidak hanya bersifat sakala atau fisik, tetapi juga niskala yang bermakna spiritual. Ikatan ini dinilai sebagai fondasi yang membuat kedua desa tetap kokoh meski sejarah mencatat salah satu erupsi terbesar Gunung Batur pernah mengguncang wilayah mereka.

Senada dengan itu, Jero Penyarikan Duhuran Batur menegaskan pentingnya solidaritas masyarakat pegunungan Bali. Ia berpesan agar warisan leluhur yang telah dijaga berabad-abad ini tidak diubah atau dikurangi, melainkan diteruskan kepada generasi muda sebagai identitas budaya yang kuat.

Napak tilas ini menjadi pengingat bahwa bencana alam mampu merenggut tempat tinggal, tetapi tidak pernah mampu memutus tali persaudaraan yang diikat oleh sejarah dan keyakinan bersama.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: balinusra.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top