DENPASAR — Perhitungan ala ayuning dewasa dalam Kalender Bali memegang peranan penting bagi masyarakat Hindu setempat dalam menentukan momentum pelaksanaan upacara adat hingga aktivitas sehari-hari. Pada Selasa (4/8/2026), yang merupakan Anggara Pon Merakih, terdapat enam dewasa dengan karakteristik baik dan buruk yang perlu dipahami sebelum beraktivitas.
Informasi ini merujuk pada penanggalan yang dirangkum dari kalenderbali.org. Masing-masing dewasa memiliki tingkat kehati-hatian atau "alahing dewasa" yang berbeda, mulai dari skala 2 hingga 4, sebagai panduan untuk memitigasi risiko.
Dua pantangan utama menonjol pada hari ini. Pertama, dewasa Banyu Urug secara spesifik menyebutkan ketidakbaikan untuk membuat sumur, meskipun sebaliknya justru baik untuk mendirikan bendungan. Kedua, dewasa Kala Dangastra melarang memulai pekerjaan penting serta menggelar upacara (gawe ayu) pada hari tersebut.
Meski ada larangan, Kala Dangastra juga memiliki sisi baik, yakni dipercaya cocok untuk membangun tembok pekarangan dan membuat alat-alat penangkap ikan. Sementara itu, dewasa Pepedan memberikan rekomendasi untuk membuka lahan pertanian baru, namun tidak dianjurkan untuk membuat peralatan dari besi.
Bagi para pelajar atau siapa pun yang ingin menimba ilmu, dewasa Dirgahayu menjadi kabar baik. Hari ini dinilai baik untuk memulai belajar dengan tingkat alahing dewasa 4, yang berarti memiliki energi positif yang kuat untuk menyerap pengetahuan.
Sebaliknya, bagi keluarga yang berencana menggelar upacara pembakaran mayat atau atiwa-tiwa, sebaiknya menunda. Dewasa Gagak Anungsang Pati secara tegas menyatakan hari tidak baik untuk melaksanakan upacara tersebut, dengan tingkat alahing dewasa 2.
Selain ala ayuning dewasa, perhitungan Kalender Bali juga mencakup aspek lain yang melengkapi karakter hari. Untuk Anggara Pon Merakih, pararasan jatuh pada Laku Pandita Sakti, sementara pancasuda berada di bawah naungan Satria Wibawa.
Ekajalaresi hari ini adalah Buat Astawa dengan pratiti Nama Rupa. Keseluruhan elemen ini kerap digunakan oleh para sulinggih atau pandita untuk memberikan pertimbangan lebih holistik sebelum memutuskan hari baik, tidak hanya terbatas pada daftar dewasa utama.