BALI — Suara tawa anak-anak kecil bercampur riuh rendahnya suasana sidang menjadi pemandangan yang tak biasa di sebuah muktamar. Peristiwa ini terjadi di sela-sela Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang berlangsung pada Kamis-Sabtu, 6-8 Agustus 2026, di Surakarta. Alih-alih menjadi gangguan, kehadiran balita hingga papa muda justru dianggap sebagai warna tersendiri yang membedakan acara ini dari forum organisasi lainnya.
Di tengah padatnya agenda musyawarah, panitia menyulap sebagian area menjadi ruang bermain bernama EMINA (Educare Milik Nasyiatul Aisyiyah). Program ini dirancang khusus agar ibu muda yang menjadi kader tidak perlu memilih antara mengikuti sidang atau mengurus buah hati. Anak-anak mendapatkan pendampingan, sementara para ibu bisa fokus mengikuti keseluruhan rangkaian acara.
Konsep inklusif ini menarik perhatian Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti. Ia menilai muktamar ini berbeda dari ortom Muhammadiyah lainnya karena pesertanya lintas usia. "Di sini banyak sekali balita, bahkan suami-suami muda yang disebut dengan ISNA (Ikatan Suami Nasyiatul Aisyiyah). Jadi ini satu-satunya muktamar yang pesertanya itu lintas usia. Balita ikut, papa muda pun juga turut ikut, luar biasa!," ujar Mendikdasmen RI itu.
Menurutnya, pemandangan ini adalah wujud nyata keceriaan yang melekat pada Nasyiatul Aisyiyah. Ia berharap semangat ini terus berlanjut, selaras dengan pesan Kyai Dahlan kepada para kader muda untuk giat, bersemangat, dan bersuka cita dalam menjalankan kegiatan.
Kehadiran EMINA bukan sekadar tempat penitipan anak. Panitia menggandeng mahasiswa PG PAUD Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk mengelola program ini dengan konsep yang matang. Anak-anak diajak bermain permainan manipulatif yang mendukung perkembangan motorik kasar dan halus.
Para pendamping juga memberikan stimulasi kognitif melalui media edukatif. Aktivitas ini dirancang untuk mengasah kemampuan sosial-emosional dan komunikasi verbal anak. Dengan begitu, waktu yang dihabiskan anak di sini tetap berkualitas dan mendukung tumbuh kembang mereka, bukan hanya sekadar menunggu orang tua selesai beraktivitas.
Muktamar ke-15 NA mengusung tema "Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan". Lewat EMINA, tema besar tersebut mendapat tafsir sederhana namun mendalam. Peradaban berkelanjutan tidak harus dimulai dari hal-hal besar, melainkan dari bagaimana sebuah organisasi mampu menghadirkan sistem yang ramah bagi keluarga.
Kehadiran ruang bermain ini membawa pesan luas bagi para ibu muda di Indonesia. Bahwa perjuangan untuk berdaya dan produktif tidak harus membuat mereka meninggalkan keluarga. Sebaliknya, kebutuhan mengasuh anak bisa dibawa menjadi bagian dari ekosistem gerakan itu sendiri. Produktivitas perempuan muda, kehidupan keluarga, dan kepentingan mengasuh anak adalah hal yang bisa berjalan beriringan tanpa perlu dipertentangkan.