BALI — Teknologi OLED selama ini selalu jadi primadona berkat kontras sempurna dan desain tipis yang sulit ditandingi Mini-LED. Masalahnya cuma satu: harganya. Bahkan TV OLED kelas entry-level sering lebih mahal dari TV Mini-LED kelas menengah. Kabar baiknya, kondisi itu mulai berubah sejak LG Display—pemasok panel OLED terbesar dunia—mengubah strategi produksinya di tahun 2026 ini.
LG Display memperkenalkan panel OLED SE pada Maret 2026 lalu. Posisinya berada di bawah OLED EX (panel untuk LG C6) dan OLED META (panel untuk LG G6 flagship). Artinya, OLED SE adalah opsi panel paling ekonomis yang tersedia untuk merek mana pun yang ingin menjual TV OLED.
Spekulasi industri menyebutkan bahwa LG B6E—TV OLED termurah LG tahun ini—menggunakan panel OLED SE. Dengan harga USD 899 untuk ukuran 55 inci, B6E menjadi pintu masuk paling menarik bagi yang penasaran dengan teknologi OLED tanpa harus merogoh kocek dalam untuk seri C-series atau G-series.
Menariknya, rumor beredar bahwa Sony juga sedang menyiapkan TV OLED yang lebih terjangkau untuk bersaing di kelas entry-level. Jika benar, panel OLED SE dari LG Display kemungkinan besar menjadi tulang punggungnya—bukan hanya LG yang akan diuntungkan, tapi juga konsumen yang punya lebih banyak pilihan.
Pekerjaan LG Display belum selesai. Menurut laporan ETNews Korea Selatan yang dikutip FlatpanelsHD, LG Display sedang mengembangkan panel WOLED "two-stack" untuk TV dan monitor. Strukturnya lebih sederhana karena hanya mengandalkan dua lapisan emisi, sementara desain WOLED sebelumnya (seperti di LG C6) memakai tiga lapisan.
Klaimnya, struktur dua lapisan ini mampu mencakup sekitar 82,5% gamut warna BT.2020. Kalau benar, ini lompatan signifikan dari panel three-stack yang pernah kami ukur, yang biasanya hanya mencapai kisaran 75% sampai 77%. Buat yang tidak terlalu paham istilah teknis: artinya reproduksi warna bakal lebih kaya dan akurat, terutama untuk konten HDR.
Perlu dicatat, pengembangan teknologi baru tidak otomatis membuat harga TV OLED langsung anjlok. Tapi arahnya jelas: metode produksi yang lebih efisien adalah kunci supaya OLED tidak selamanya jadi barang mewah. Adopsi panel baru ini oleh merek seperti Samsung, Sony, dan lainnya juga penting—semakin banyak merek yang pakai, semakin kompetitif harganya.
Proyeksi realistisnya, TV OLED yang lebih murah baru akan benar-benar terasa di pasar pada 2027 dan seterusnya, asalkan tidak ada gangguan rantai pasok global. Frontier berikutnya dari teknologi OLED mungkin bukan soal siapa yang paling terang atau paling besar, tapi siapa yang bisa menawarkan kualitas sinematik dengan harga yang masuk akal untuk kelas menengah.
Catatan redaksi: Kami belum sempat menguji LG B6E di lab, jadi klaim performa panel OLED SE masih berdasarkan data pabrikan dan spekulasi industri. Yang jelas, arah industri TV sedang bergerak ke satu tujuan: OLED yang lebih murah tanpa mengorbankan kualitas gambar.