46 Font Aksara Bali Dikembangkan Perancang Huruf, Putri Koster: Jangan Tunggu Sampai Warisan Leluhur Hilang

Penulis: Vino Bastian  •  Jumat, 11 September 2026 | 08:01:02 WIB
Putri Koster menghadiri Seminar Aksara Kawi dan Bali "Nyastra" di Denpasar.

DENPASARPutri Koster menegaskan aksara adalah penanda penting peradaban suatu kelompok masyarakat. Menurutnya, masyarakat Bali patut berbangga karena memiliki aksara sendiri sebagai warisan leluhur yang hingga kini tetap hidup dan digunakan.

"Dari seluruh suku yang ada di Indonesia, kita harus berbangga bahwa Bali memiliki aksaranya sendiri," ujar Putri Koster dalam seminar tersebut.

Regulasi Saja Tidak Cukup, Kesadaran Warga Jadi Kunci

Putri Koster menilai keberlangsungan aksara Bali tidak cukup hanya dijaga melalui regulasi pemerintah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar bahasa, aksara, dan sastra Bali terus digunakan serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia mengingatkan warisan budaya dapat perlahan menghilang apabila masyarakat mulai meninggalkan penggunaannya. Pelestarian aksara Bali, katanya, harus dimulai dari kesadaran masyarakat Bali sendiri.

"Ketika kita sudah beralih, tidak mau memakai lagi, itu sudah tanda-tanda kita akan kehilangan warisan leluhur kita. Maka, ayo tumbuhkan kesadaran bahwa kita harus melestarikan sastra dan aksara Bali yang telah diwariskan para leluhur kepada anak cucu kita," tegasnya.

Landasan Hukum Lewat Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018

Pemerintah Provinsi Bali telah memberikan landasan regulasi dalam upaya pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali. Regulasi itu tertuang dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Namun, keberadaan regulasi harus diikuti dengan implementasi nyata dalam kehidupan masyarakat. Putri Koster pun mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan usia sebagai alasan berhenti belajar.

46 Font Aksara Bali, Teknologi Dinilai Buka Peluang Baru

Ketua Panitia Seminar Aksara Kawi dan Bali "Nyastra", Wayan Sila Sayana, menyampaikan perkembangan teknologi digital turut membuka peluang baru bagi pelestarian dan pengembangan aksara Kawi dan Bali. Hingga saat ini, telah dikembangkan 46 jenis font aksara Bali oleh perancang huruf dari Indonesia maupun luar negeri.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap keberadaan aksara tradisional. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas ruang penggunaan, pengembangan, dan pengenalan aksara Bali kepada masyarakat.

Seminar "Nyastra" menghadirkan dua narasumber, yakni Peneliti Ahli Madya BRIN Drs. I Gusti Made Suarbhawa yang membawakan materi "Prasasti Sembiran: Menguak Keberaksaraan Kuno di Pesisir Bali Utara" serta I Made Suatjana, kreator Bali Simbar, dengan materi "Perkembangan dan Tantangan Font Aksara Bali Simbar".

Harapan agar Seminar Melahirkan Karya Nyata

Putri Koster berharap kegiatan seperti Seminar "Nyastra" tidak berhenti sebatas ruang diskusi. Seminar dan sosialisasi diharapkan mampu melahirkan karya nyata yang memperkuat keberadaan bahasa, aksara, dan sastra Bali, termasuk melalui penerbitan buku serta berbagai karya yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan generasi muda.

Melalui Seminar Aksara Kawi dan Bali "Nyastra", pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali diharapkan semakin tumbuh menjadi gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital juga diharapkan membuka ruang yang semakin luas bagi aksara Bali untuk tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: baliprawara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top