Rupiah Berpotensi Menguat ke Rp17.650-Rp17.750, Ditopang Reli Obligasi Asia

Penulis: Usman Harun  •  Jumat, 18 September 2026 | 08:04:01 WIB

BALI — Rupiah membuka peluang penguatan pada perdagangan spot Jumat (18/9/2026) dan diproyeksi bergerak di kisaran Rp17.650-Rp17.750 per dolar AS. Penurunan harga minyak mentah meredakan kekhawatiran gangguan pasokan, sementara pasar obligasi domestik ikut tersengat reli surat utang Asia setelah Wall Street menguat.

Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah bergerak di kisaran Rp17.801 per dolar AS pada 06.52 WIB. Tak lama berselang, mata uang Garuda terapresiasi 0,07% ke level Rp17.778 pada 07.46 WIB.

Ruang penguatan rupiah ditopang pasar obligasi domestik yang tersengat reli pasar saham dan obligasi Asia. Wall Street reli setelah The Fed mengerek suku bunga sesuai ekspektasi pasar.

Yield SUN Tenor Pendek Terpangkas 8,8 bps

Kemarin, surat utang negara (SUN) tertekan dan mengalami kenaikan yield. Namun pagi ini, tenor 1 tahun terpangkas 8,8 bps dari 6,8% ke 6,74%.

Yield tenor 10 tahun juga terpangkas tipis 0,4 bps ke 7,15% dari sebelumnya 7,16%. Penurunan yield di dua tenor acuan ini memberi sinyal masuknya kembali minat investor ke aset berdenominasi rupiah.

Mata Uang Asia Bergerak Campuran

Sebagian kecil mata uang Asia bergerak di zona merah, seperti yen Jepang dan dolar Singapura.

Namun tak sedikit yang bergerak di zona hijau, seperti yuan offshore, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan. Pola campuran ini menunjukkan sentimen regional belum sepenuhnya seragam, meski arus masuk ke aset Asia cenderung menguat.

Harga Minyak Turun Jadi Katalis Tambahan

Penurunan harga minyak mentah menjadi faktor pendukung lain bagi rupiah. Harga minyak yang lebih rendah mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan impor energi Indonesia.

Bagi investor, kombinasi yield SUN yang turun dan harga minyak yang melemah memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak defensif hingga menguat terbatas. Pergerakan hari ini akan sangat bergantung pada arus masuk asing di pasar obligasi dan perkembangan sentimen global.

Reporter: Usman Harun
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top