KLUNGKUNG — Rangkaian ritual Ngaro dimulai dengan pembuatan banten sejak pukul 18.00 WITA. Puluhan warga kemudian mengarak seluruh tapakan atau pretima dengan berjalan kaki menuju kawasan pesisir.
Prosesi persembahan banten di tengah malam berlangsung khidmat. Suasana minim penerangan lampu dan tanpa riuh nyanyian gamelan.
Kelihan Pura Kawitan Dalem Madura Banjarangkan, I Wayan Juliawan, menjelaskan bahwa tradisi Ngaro berasal dari ritual penebusan dosa leluhur oleh Adipati Arya Kuda Pinolih di Madura.
Hubungan kedua wilayah makin erat ketika Raja Bali masa itu, Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan, diiringi Arya Kuda Pinolih menuju Bali.
Dalam perjalanan laut, keris milik Raja Bali sempat jatuh di perairan Bali Selatan. Keris itu akhirnya ditemukan kembali oleh Arya Kuda Pinolih berkat bantuan seekor ikan barakuda atau ikan kucul di perairan Pantai Karang Intaran, Sanur.
Peristiwa bersejarah inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan tradisi Ngaro secara turun-temurun.
Abrasi yang menggerus Pantai Tegal Besar memaksa warga memindahkan lokasi prosesi puncak. Pilihan jatuh ke Pantai Siut di Kabupaten Gianyar.
Prosesi berlangsung tepat pukul 00.00 WITA. Ritual dipuput oleh Jero Mangku setempat.
Usai ritual, persembahan tumpeng dan banten dibagikan kepada seluruh pemedek yang hadir.
"Saat melaksanakan upacara, kami minim menggunakan gamelan maupun sinar lampu penerang. Usai ritual, persembahan tumpeng dan banten dibagikan kepada seluruh pemedek yang hadir. Secara filosofis, tradisi Ngaro bertujuan memohon keselamatan, kerahayuan jagat, serta wujud syukur kepada leluhur," jelas I Wayan Juliawan.
Pelaksanaan Ngaro tahun ini menegaskan posisi warga keturunan Arya Madura di Banjarangkan sebagai penjaga tradisi yang menghubungkan dua pulau. Ritual yang diwariskan lintas generasi itu tetap dijalankan meski lokasi prosesi harus menyesuaikan kondisi alam pesisir.